A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Rabu, 31 Maret 2010

Museum Wasaka, Sebuah Warisan Perjuangan Bagi Generasi Penerus Bangsa

Saat diresmikan oleh Ir. H. Muhammad Said, gubernur Kalimantan Selatan periode 1984-1995 pada 10 November 1991, Museum Wasaka hanya memiliki koleksi sekitar 77 buah. Kini, setelah hampir dua puluh tahun berlalu, benda-benda bersejarah yang disimpan di museum perjuangan rakyat Kalimantan Selatan tersebut jumlahnya sudah lebih dari dua ratusan. Apa saja?

NAZAT FITRIAH, Banjarmasin

Museum Wasaka tak ubahnya seperti sebuah rumah, ada ruang tamu, ruang tengah, serta dapur. Bedanya, perkakas di dalamnya adalah benda-benda kuno dan bernilai sejarah tinggi. Menurut keterangan Yudia, sang pemandu dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, sebelum dialihfungsikan menjadi museum, rumah Banjar Bubungan Tinggi yang terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut memang merupakan sebuah rumah yang dihuni oleh penduduk. Sebagai upaya konservasi bangunan tradisional, rumah itu lantas dibeli oleh pemerintah daerah seharga Rp 25 juta dan dijadikan museum khusus untuk menyimpan koleksi yang berkaitan dengan sejarah perjuangan para pejuang banua, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Museum itu diberi nama Wasaka, singkatan dari Waja Sampai Ka Puting yang merupakan moto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.

Sejak awal didirikan, Museum Wasaka direncanakan akan menampilkan koleksi yang melingkupi lima babak sejarah, yaitu periode Perang Banjar, periode perintis kemerdekaan dan zaman pendudukan Jepang, periode revolusi fisik, periode pengisian kemerdekaan, serta periode orde baru. Namun, yang terealisasi hingga kini baru satu babak saja, yakni periode revolusi fisik. Itupun masih sebagian saja koleksinya yang berhasil dikumpulkan. Meski demikian, pengumpulan koleksi lainnya serta pembangunan gedung museum yang lebih representatif terus diupayakan oleh pemerintah daerah dan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan selaku pengelola, sesuai dengan amanat sang inisiator, H.M. Said.

Nah, apa sajakah ”isi perut” Museum Wasaka?

Seperti disebutkan sebelumnya, Museum Wasaka saat ini hanya berisikan benda-benda bersejarah yang terkait dengan periode revolusi fisik, yaitu perjuangan mengembalikan Kalsel ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang tahun 1946 hingga 1949. Pasca disepakatinya perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 Nopember 1945, wilayah Indonesia mengerucut menjadi terbatas hanya pada kawasan Pulau Jawa, Madura dan Sumatera. Rakyat Kalsel rupanya tidak rela hal itu terjadi dan ingin tetap menjadi bagian dari NKRI. Perjuangan pun meletus hingga pada tanggal 17 Mei 1949 di Kandangan Bapak Gerilya Kalimantan, Brigjen H. Hassan Basry atas nama Rakyat Kalimantan Selatan memproklamasikan berdirinya pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang melingkupi seluruh wilayah Kalimantan Selatan sebagai bagian dari wilayah RI sesuai Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945.

Seset kursi rotan yang dulunya pernah digunakan para pejuang untuk bermusyawarah menyusun strategi dan menetapkan susunan pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang sebelumnya berada di sebuah rumah di daerah Durian Rabung Kabupaten Hulu Sungai Selatan serta sebuah meja marmer tempat Hassan Basry menulis surat-surat penting ketika beliau mengkoordinasikan para pejuang di pedalaman Kabupaten Hulu Sungai Tengah menjadi pengisi ruang depan Museum Wasaka. Sementara dindingnya dihiasi foto-foto gubernur Kalsel dari masa ke masa, mulai dari gubernur pertama Ir. PHM Noor hingga gubernur saat ini Rudy Ariffin. Selain itu, ada pula pajangan berupa lambang-lambang kabupaten/kotamadya di Kalimantan Selatan.

Memasuki ruang tengah yang disekat menjadi tiga, lebih banyak lagi benda-benda bersejarah yang dipamerkan. Ada peralatan dapur umum yang dulu mengiringi pergerakan para pejuang, seperti piring, panci, dan periuk serta sejumlah perlengkapan markas untuk menunjang kegiatan di lapangan dan administrasi pejuang seperti mesin tik, radio, dan kamera antik. Kerangka sepeda yang sudah tidak utuh lagi serta sebuah mesin kapal yang dulu membantu transportasi para pejuang juga ada. Tidak ketinggalan replika baju dan ransel asli milik Hassan Basry tempat ia menyimpan segala perlengkapan yang selalu dibawanya, serta peci yang dikenakan para pejuang sebagai identitas kesatuan mereka.

Kemudian, jalannya pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan RI di Kalsel selama tahun 1946-1949 disajikan melalui foto-foto dan beberapa diorama atau miniatur tiga dimensi. Ada pula peta timbul yang menunjukkan lokasi-lokasi pertempuran yang diletakkan tepat di tengah-tengah ruangan.

Yang paling menarik adalah koleksi senjata yang dulu digunakan para pejuang untuk melawan penjajah. Mulai dari yang tradisional seperti sangkur, kapak, keris, sumpit, mandau, samurai, dan bambu runcing, sampai yang modern seperti pistol, senapan, dan granat hasil rampasan dari tangan penjajah Untuk mengimbangi kekuatan penjajah yang tangguh karena didukung persenjataan yang lebih canggih, para pejuang melakukan berbagai cara, termasuk mendirikan bengkel senjata untuk menciptakan berbagai senjata api rakitan dalam jumlah besar dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas yang tersedia. Replika bengkel senjata ini sendiri dapat dinikmati pengunjung di dapur alias ruangan paling belakang museum. Di sana juga ditempatkan sebuah beduk yang dulu difungsikan sebagai sarana untuk mengumumkan situasi aman atau gawat. Jika beduk dipukul terus-menerus, tandanya pasukan penjajah akan tiba. Jika dipukul satu-satu, itu berarti keadaan aman.

Tak cukup sampai di situ, para pejuang ternyata juga mengandalkan bantuan jimat, senjata, dan pakaian khusus yang diyakini memiliki kekuatan magis. Umumnya, benda-benda ini berbau Islam. Misalnya, jimat berupa Alquran mini dan serban yang telah dirajah dengan ayat-ayat suci Alquran.

Untuk melengkapi, di Museum Wasaka juga disimpan sejumlah buku, makalah, tulisan, serta dokumen yang terkait dengan perang kemerdekaan di Kalsel.

Museum Wasaka dibuka setiap hari kecuali hari Senin. Pengunjung bisa datang pada hari Selasa sampai Kamis pukul 08.30-13.30, hari Jumat pukul 08.30-10.30, hari Sabtu pukul 08.30-12.30, dan hari Minggu pukul 08.30-13.30.

“Tapi kalau mau datang di luar jam itu juga bisa meski kami tidak ada. Karena ada penjaga yang menjaga museum 24 jam. Tinggal minta dibukakan pintunya, pengunjung bisa datang kapan saja,” tutur Yudia.

Untuk bisa masuk, pengunjung tidak perlu membayar sepeser pun alias gratis.

“Namun, kalau yang datang rombongan, kami terkadang menarik bayaran sekadarnya untuk biaya kebersihan. Terutama kalau rombongan anak SD karena mereka sering buang sampah sembarangan di dalam museum, padahal bak sampah sudah disediakan. Uangnya nanti akan diberikan kepada petugas kebersihan,” imbuh Yudia.

Belum Penuhi Syarat Permuseuman
Museum Wasaka adalah warisan perjuangan yang sangat berharga bagi generasi penerus bangsa agar mereka dapat selalu mengenang dan menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Namun, untuk mengembangkannya, Ketua Badan Pengelola Museum Wasaka Drs. H. Syarifudin mengatakan hal itu sangat sulit. Apa pasalnya?

Sebenarnya, keberadaan Museum Wasaka saat ini belum memenuhi syarat-syarat permuseuman. Syarifudin menjelaskan bahwa museum seharusnya berada dekat dengan penduduk dan mudah dijangkau.

“Tadinya Museum Wasaka hendak dibangun di Kilometer 17. Desainnya sudah dibuat berdasarkan studi banding yang kami lakukan ke daerah-daerah lain. Tapi mendadak Gubernur H.M. Said waktu itu menyuruh saya untuk menyiapkan Museum Wasaka di Sungai Jingah dalam jangka dua bulan,” tutur mantan Kepala Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru ini.
Dasar pemikirannya adalah yang penting museumnya bisa berdiri dulu karena Kalsel sama sekali belum memiliki museum perjuangan seperti halnya daerah lain. Harapannya, agar generasi sekarang mengetahui bahwa Indonesia tidak akan bisa merdeka tanpa pengorbanan para pejuang. Sedangkan bagaimana pengembangan selanjutnya, hal itu akan dipikirkan belakangan.

Syarifudin mengaku ia sebenarnya tidak setuju dengan rencana tersebut karena pada saat itu kawasan Sungai Jingah masih terisolasi dan hanya bisa dicapai melalui jalur sungai dengan menggunakan perahu karena jalan darat yang ada tadinya hanyalah jalan setapak yang becek sehingga sulit dilewati.

“Sampai-sampai ada orang dari Jakarta yang mengatakan bahwa Museum Wasaka itu benar-benar museum perjuangan karena untuk ke sananya saja pernuh dengan perjuangan,” celetuk lulusan pertama pendidikan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat tahun 1974 ini sambil tertawa. “Tapi apa boleh buat. Demi terwujudnya Museum Wasaka, saya laksanakan saja perintah itu,” katanya.

Untungnya sejak sekitar empat atau lima tahun yang lalu, jalan darat yang ada diperbaiki. Jembatan dan dermaga pun dibangun sehingga akses menuju Museum Wasaka sekarang menjadi lebih mudah.

Meski demikian, masih ada permasalahan lain yang sampai saat ini tak kunjung ada penyelesaiannya, yakni fasilitas museum. Menurut Syarifudin, sebuah museum semestinya tidak hanya berupa ruang pameran saja, tapi juga harus memiliki ruang penyimpanan, ruang preparasi, ruang bimbingan dan edukasi, ruang kuratorial, serta auditorium.

“Soal ini sudah pernah saya sampaikan ke Biro Kesra sebagai pihak penyelenggara museum, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasannya. Tahu-tahu yang dibangun rumah yang di belakang museum itu dan pembangunannya juga tanpa sepengetahuan Badan Pengelola. Seandainya diberi tahu, kami bisa mengarahkan sebaiknya dibangun apa,” keluh pria yang sudah berkecimpung di bidang permuseuman selama hampir 33 tahun itu.

Salah satu dari dua buah rumah yang dibangun itu kemudian dijadikan tempat tinggal penjaga museum dan yang satunya lagi difungsikan sebagai kantor sekaligus gudang penyimpanan koleksi Museum Wasaka yang tak bisa dipajang di ruang pameran karena keterbatasan tempat.
Ya, benda bersejarah yang dimiliki Museum Wasaka sebenarnya tidak hanya yang nampak di dalam ruang pamerannya saja. Itu baru sebagiannya, ada lebih banyak lagi yang menumpuk di gudang, bahkan yang berukuran besar dan sulit dimasukkan ke dalam gudang terpaksa diletakkan begitu saja di kolong museum. Diungkapkan Syarifudin, jumlah koleksi Museum Wasaka ini saat ini keseluruhannya mencapai empat ratus lebih dan terus bertambah karena tim koleksi juga terus melakukan pencarian.

“Koleksi yang terbaru ada beberapa jenis jimat, seperti jimat rantai babi, jimat kijang putih, dan babatsal (jimat yang diikatkan di pinggang),” ujarnya.

Sejumlah alternatif pernah diajukan Syarifudin untuk mengatasi kendala minimnya fasilitas ini, di antaranya perluasan museum dan pemindahan museum ke lokasi lain. Namun, ide tersebut semuanya mental.

“Saya juga tidak tahu alasannya,” ucapnya.

Padahal, Syarifudin sangat berharap Museum Wasaka dapat berkembang seperti rencana semula, yaitu menampilkan lima periode sejarah perjuangan menegakkan kemerdekaan RI di Kalsel, yakni sejak masa Perang Banjar hingga era Orde Baru.

Sulitnya mendapatkan koleksi, terutama yang berkaitan dengan Perang Banjar dan zaman perintis kemerdekaan, dikatakan Syarifudin sebagai kendala tersendiri juga dalam upaya mewujudkan rencana tersebut.

“Kebanyakkan pejuangnya kan sudah meninggal. Kalau dari orang biasa, kami tidak mau menerima, kecuali dari keturunan si pejuang,” katanya.

Di samping itu, pencarian ini juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sementara, Syarifudin membeberkan bahwa pemerintah daerah tidak menganggarkan dana khusus untuk pemeliharaan maupun pengembangan Museum Wasaka ini.

“Yang ada hanya dana bantuan. Kalau kami memerlukan dana, kami harus mengajukan permohonan ke Biro Kesra,” imbuhnya.

Ketiadaan anggaran khusus ini diakui Syarifudin cukup menyulitkan, terutama dalam hal pemeliharaan gedung. Lihat saja bagian bawah museum yang penuh dengan coretan-coretan tangan tidak bertanggung jawab.

Syarifudin menilai jika dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT), pengelolaan Museum Wasaka akan lebih efektif. “Jadi, kami bisa memiliki anggaran sendiri dan mempertanggungjawabkannya sendiri,” ujarnya.

Mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2011 nanti, Syarifudin pun menaruh harapan besar agar penggantinya kelak dapat memenuhi semua asanya tersebut.

Dulu Seram, Sekarang Ramai
Bangunan tua pada umumnya sering diidentikkan dengan kesan mistis. Bagaimana dengan Museum Wasaka?

Sebelum jembatan Banua Anyar dan dermaga di depan museum di bangun, Museum Wasaka relatif jarang mendapatkan pengunjung. Selama itu, Yudia, pemandu dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan mengaku sering terjadi keganjilan di Museum Wasaka. Dengan lancar ia menuturkan sejumlah cerita seram.

“Kata orang sih penunggunya di sini seorang perempuan berambut merah. Ada yang pernah melihtnya duduk di teras,” kata Yudia mengawali kisahnya.

Ia sendiri pernah mengalami kejadian yang sampai sekarang masih membuatnya merinding jika mengingat kejadian tersebut.

“Waktu itu saya lagi memandu dua orang pengunjung, laki-laki, yang minta ditemani berkeliling museum. Tiba-tiba ada yang mencolek-colek saya dari belakang. Mulanya saya pikir pengunjung tadi yang iseng. Tapi saya langsung sadar bahwa kedua orang itu ada di depan saya dan di belakang saya tidak ada siapa-siapa,” kenangnya.

Tidak lama berselang, seorang pengunjung juga mengalami kejadian aneh.
“Ada yang melihat kaki yang sangat besar,” ujar Yudia.

Ada pula salah seorang penduduk sekitar yang pernah mendengar suara dari dalam museum seperti sepasukan prajurit yang tengah berbaris. Namun, tidak semua orang mempercayai kisah-kisah tersebut. Yudia menceritakan pernah ada orang yang ingin membuktikan keangkeran Museum Wasaka dengan cara menginap di dalam museum pada malam Jumat. Apa yang terjadi?

“Pagi-pagi waktu orang itu bangun, dia sudah ada di atas pohon di belakang museum,” sambungnya.

Namun, keanehan-keanehan semacam itu kini sudah langka ditemui, tepatnya pasca renovasi museum sekitar dua atau tiga tahun yang lalu serta ramainya pengunjungnya sekarang setelah akses menuju Museum Wasaka menjadi lebih mudah. Ada sekitar 30 sampai 40 pengungjung yang setiap harinya bertandang ke Museum Wasaka. Rombongan anak sekolah maupun mahasiswa datang silih berganti, terlebih di akhir pekan. Selain rekreasi, tujuan utama mereka adalah untuk menambah pengetahuan mengenai sejarah perjuangan menegakkan kemerdekaan di Kalsel.

Seperti dikatakan Salahudin, guru Biologi dan Muatan Lokal di SMA Negeri 4 Banjarmasin yang pada hari Kamis (04/02) lalu mengajak siswa-siswinya berkunjung ke Museum Wasaka. Ia bermaksud menunjukkan secara langsung kepada para muridnya itu apa yang telah mereka pelajari di kelas, seperti rumah Banjar Bubungan Tinggi dan bukti sejarah perjuangan di Kalsel.

“Museum Wasaka ini cukup mewakili aspirasi pendidikan,” ujarnya. Oleh karena itu, ia berharap Museum Wasaka dapat lebih dikembangkan lagi.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas X A SMA Negeri 4 Banjarmasin yang ikut dalam rombongan, Rahmat Adiputra mengaku sangat tertarik dengan koleksi senjata yang ada di Museum Wasaka. Ia juga semua koleksi bersih dan terawat.

Hal senada turut diungkapkan Samlan, guru Olahraga SDN Banua Anyar 2 yang hari itu juga mengajak muridnya berkunjung ke Museum Wasaka setelah selesai berolah raga.

“Museum Wasaka sangat membantu untuk menambah pengetahuan para siswa. Kondisinya juga cukup bagus,” ujarnya.

Untuk lebih memasyarakatkan Museum Wasaka, Ketua Badan Pengelola Museum Wasaka Drs. H. Syarifudin mengungkapkan bahwa dua kali dalam setahun pihaknya selalu mengadakan pameran di berbagai daerah di Kalsel, yaitu setiap tanggal 17 Mei dan 17 Agustus. Pameran inilah yang menjadi kesempatan bagi koleksi Museum Wasaka yang tadinya hanya teronggok di gudang untuk dipamerkan.

Sementara terkait dengan tahun kunjungan museum yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2010 ini, dengan bersemangat lelaki yang sudah berusia 75 tahun itu mengatakan bahwa Museum Wasaka akan mengadakan pameran bersama dengan Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru pada ajang Kongres Budaya Banjar II di Gedung Sultan Suriansyah pada tanggal 04-07 April 2010 mendatang.

“Konsepnya sudah saya pikirkan, yaitu peranan orang Banua dalam perjuangan penegakkan kemerdekaan,” cetusnya.

Ditambahkan Syarifudin, di Kongres Budaya Banjar yang nanti akan dihadiri orang Banjar yang ada di perantauan, baik di dalam maupun luar negeri, koleksi yang nanti akan ditampilkan Museum Wasaka adalah yang bersifat budaya, terutama senjata-senjata tradisional dan jimat-jimat.

“Ini untuk menunjukkan keunikan perjuangan para pejuang Kalsel,” tutup Syarifudin.

Tidak ada komentar: