A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov
Tampilkan postingan dengan label Hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hobi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 November 2014

CREX BORNEO & THE SPIDER KID

Crex Borneo berdiri tahun 2011. Anggotanya mulai pelajar, mahasiswa, sampe umum. Klub ini boleh dibilang yang terbaik di Kalimantan Selatan, banyak menyumbang atlet berprestasi untuk Kalsel. Mereka biasa latihan panjat dinding tiap sore di halaman kampus STIKIP Paris Barantai. 
Tadi sore, saya kopdar sama Bang Hamzah Fanshuri alias Bang Ancah, pendiri Crex Borneo. Dan surprisingly, yang 'menyambut' saya adalah bocah-bocah. Yes, Crex Borneo juga merupakan klub yang paling aktif membibitkan atlet panjat dinding sejak usia dini. Gak kalah sama senior-seniornya, atlet-atlet cilik ini juga udah banyak menoreh prestasi.

Saya terbengong-bengong ngeliat mereka lincah-lincah banget! Omegot, buat mereka manjat dinding kayaknya segampang main kelereng.

---pasang pengaman dulu---

Si mungil unyu-unyu ini namanya Chelsea. Badannya imut banget. Tapi dinding setinggi 15 METER (sengaja di-bold dan pake huruf kapital) gampang aja buat dia. Ajegile...


Yang di foto-foto di bawah adalah Ayu dan Shela. Atlet masa depan banua. Umurnya masih 11 dan 10 tahun, kelas enam dan kelas lima di SDN Dirgahayu 7 Kotabaru. Mereka udah pernah ikut kejuaraan kemana-mana. Prestasi terbaiknya dapet medali perak dan perunggu di Pekan Olahraga Provinsi 2013. Padahal lawannya orang-orang dewasa loh. Kelas dalam panjat tebing itu ada spider kid untuk anak-anak, youth untuk usia SMP-SMA, junior untuk usia mahasiswa, dan di atas itu umum. Nah, kedua anak ini di Porprov tandingnya di kelas junior, ngelawan yang dua tingkat di atas level mereka. Keren, ya?
 
 ---the spider kid in action---
Anyway, ini dia si pendiri Crex Borneo :


Bang Ancah ini aktivitasnya keren banget. Dia udah keliling Indonesia kayaknya buat manjat-manjat tebing. Pernah kerja jadi penyelam buat proyek-proyek di bawah laut. Sekalian juga dia bisnis supplier alat-alat buat aktivitas outdoor.

Rabu, 03 April 2013

Harga Bawang Meroket, Komunitas Banjarmasin Berkebun Bagi-bagi Bibit



Disaat harga bawang menggegerkan negeri ini karena menyentuh angka tertinggi dalam sejarah, komunitas pegiat urban farming yang menamakan diri mereka Indonesia Berkebun membagi-bagikan bibit bawang merah gratis kepada masyarakat, Minggu (24/3).

Meilisa Nurindah, pegiat Banjarmasin Berkebun yang merupakan salah satu jejaring Indonesia Berkebun, mengatakan bahwa umumnya orang menanam bawang dari umbi.
“Bibit bawang merah varietas Tuktuk yang kami bagikan ini bisa dibilang sebuah terobosan,” ujarnya yang ditemui di Car Free Day Jl Lambung Mangkurat.
Selain Banjarmasin, ada 26 kota lainnya di Indonesia yang kemarin menggelar kegiatan serupa. Menanam bawang dari bibit sendiri diklaim lebih murah dan mudah dibanding umbi. Misalnya, kalau dalam satu hektare lahan diperlukan 1 ton umbi, dengan bibit hanya 5 kg saja. Hasilnya, 20-25 ton perhektare sekali panen. Kemudian, umbi lebih mudah terserang penyakit, sedangkan bibit relatif kuat.
Tak hanya membagi-bagikan bibit secara gratis, komunitas ini juga memberi edukasi kepada masyarakat yang sedang berolahraga pagi di kawasan Car Free Day yang tertarik untuk mengetahui cara menanam bibit bawang merah Tuktuk serta melombakannya. 
Antusiasme masyarakat ternyata cukup besar. Lapak kecil yang digelar panitia di depan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin tampak penuh, mulai anak-anak muda hingga orang tua. Salah satunya Ainudin (45), yang memang hobi berkebun di halaman rumahnya. 
“Tapi saya lebih ke buah-buahan dan tanaman obat,” kata pegawai tata usaha di Sekolah Menengah Farmasi (SMF) Banjarmasin itu.
Warga Kayu Tangi itu mengungkapkan, berkebun merupakan hobi yang bisa memberikan kegembiraan. Selain untuk diri sendiri, juga tetangga sekitar. Kalau ada tetangga yang memerlukan, ia tak keberatan berbagi. Apalagi, tanaman obat di kebun miliknya punya banyak khasiat.
“Misalnya, cocor bebek bisa untuk menurunkan panas. Atau kunyit, khasiatnya untuk mengatasi maag,” tuturnya bersemangat.
Lain lagi dengan Ramadhani. Ia mulai berkebun sekitar delapan bulan lalu sejak  menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian Unlam. Tapi sekarang ia mengaku sudah merasakan manfaatnya.
“Di rumah ada kebun mini. Isinya macam-macam sayur, ada kangkung, kacang panjang, sawi. Manfaatnya kalau lagi butuh, tinggal ambil. Terus bisa bagi-bagi juga ke tetangga,” ucapnya.

FLP Kalsel Siapkan Buku Kedua



Dulu Susah Terbitkan Buku, Sekarang Gratis Lewat Internet

BANJARMASIN – Komunitas penulis di Kalimantan Selatan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Kalsel berencana kembali menerbitkan buku dalam waktu dekat.
Diungkapkan Ketua FLP Wilayah Kalsel Nailiya Noor Azizah, buku kedua itu berupa antalogi cerita pendek (cerpen). Buku pertama diterbitkan tahun 2011 lalu, juga sebuah antalogi cerpen berjudul Pelangi di Pelabuhan. Rencananya, buku kedua berisi 20 cerpen, yang terpilih dari lomba yang diikuti anggotanya. Tema utamanya tentang cinta dalam makna universal, bisa antara orangtua dan anak, guru dan murid, maupun suami dan istri.
“Dari segi kualitas tulisan, di buku kedua ini saya lihat jauh lebih bagus. Artinya, pelatihan intensif selama ini ada hasilnya,” ujarnya di sela kegiatan seminar dan workshop menulis bersama penulis nasional Boim Lebon di Banjarmasin, Minggu (17/3).
Sejak berdiri pada tahun 1999, sampai saat ini FLP Kalsel memiliki sekitar 200-an anggota di empat cabang. Yang baru berdiri pada tahun 2012 lalu yakni Amuntai dan Barabai, menyusul Banjarmasin dan Banjarbaru yang lebih dulu eksis. FLP Kalsel sempat mati suri pada tahun 2002, namun mampu hidup lagi tahun 2007.
“Dulu untuk menerbitkan buku masih susah. Sekarang penerbit lokal sudah banyak. Yang jadi kendala, waktu penerbitan buku yang pertama lebih ke pemasaran,” sambungnya.
Dari sekian banyak anggota FLP yang mayoritas dari kalangan mahasiswa, diakuinya yang aktif menelurkan karya memang masih sedikit, sekitar 20-an penulis. Ada yang memublikasikan tulisannya lewat penerbit, secara pribadi, atau bergabung dengan penulis lain.
Salah satunya Nailiya Nikmah. Ia sudah menghasilkan puluhan tulisan, sebagian terangkum di sepuluh buku yang ditulis bersama sejumlah penulis lain. Pada tahun 2010, buku perdananya yang berupa kumpulan cerpen diterbitkan oleh Kelompok Sastra Indonesia (KSI) dan FLP Kalsel.
“Ada rencana lagi mau menerbitkan buku yang berisi kumpulan essay, puisi, dan novel. Ini masih dikerjakan, sambil cari-cari penerbit,” tutur kelahiran Banjarmasin, 9 Desember 1980 yang sehari-hari menjadi dosen Bahasa Indonesia di Poliban itu.
Ia mengaku hobi menulis sejak kecil. Tema kesukaannya adalah menulis tentang perempuan, feminisme, dan isu gender. Misinya untuk mengimbangi kesalahpahaman tentang emansipasi wanita dengan sudut pandang Islam.
Penggemar Tere Liye, Asma Nadia, dan Dan Brown ini juga mengatakan, sekarang lebih mudah bagi para penulis daerah untuk menerbitkan karya. Selain lewat penerbit lokal yang belakangan sudah banyak tumbuh, juga bisa secara gratis lewat media internet.
“Memang kalau lewat penerbit agak susah. Untuk menerbitkan sendiri juga biayanya mahal. Tapi sekarang gampang sekali mempublikasikan tulisan sendiri lewat internet, sangat mudah,” katanya.

B2C Banjarmasin, Ajak Mahasiswa ke Kampus Bersepeda



Dorong Kampus Bangun Parkiran Khusus Sepeda

Didiskriminasikan di jalan, susah cari parkir, sampai jadi bahan ledekan, sudah biasa buat anak-anak muda pegiat Bike to Campus (B2C) Banjarmasin ini. Tapi mereka tetap bersepeda ke kampus untuk mengampanyekan gaya hidup sehat sekaligus hemat energi.

“Awalnya saya search di Google, di Banjarmasin ternyata Bike to Campus belum ada. Lalu saya mulai dari Twitter bulan Mei 2012 untuk mengajak siapa yang mau ikut, tapi responsnya sedikit,” kata M Sarwani, mahasiswa semester empat FISIP Unlam jurusan Ilmu Pemerintahan, menceritakan terbentuknya B2C Banjarmasin, Sabtu (16/3).
B2C adalah bagian nonresmi dari komunitas pekerja bersepeda, Bike to Work (B2W) Indonesia. Anggotanya para mahasiwa yang menggunakan sepeda sebagai transportasi ke kampus.
“Terus saya cari teman di kampus, ada satu, tapi sudah mau lulus,” sambungnya.
Selain aktif berkicau di media sosial, mereka juga membagi pamflet dan membuat video-video tentang manfaat bersepeda atau efek negatif yang disebabkan penggunaan kendaraan bermotor, seperti kemacetan dan polusi. 
“Saya sendiri naik sepeda ke kampus mulai April 2012. Sebelumnya naik sepeda motor. Waktu itu kan ada isu harga BBM mau naik. Saya pikir kenapa tidak mulai naik sepeda saja,” tuturnya.
Ia menambahkan, jumlah kendaraan di Banjarmasin sudah terlalu banyak, sedangkan jalan tidak bertambah luas. Di Unlam sendiri, mahasiswa yang bersepeda ke kampus masih bisa dihitung.
“Sebagai gambaran, di angkatan saya saja yang jumlah mahasiswanya 200-an, yang pakai sepeda cuma dua orang,” imbuhnya.
Setelah hampir setahun B2C terbentuk, diakuinya perkembangannya tidak terlalu menggembirakan, walaupun jumlah mahasiswa yang bersepeda ke kampus ada peningkatan. Selain di Unlam, pegiat B2C juga tersebar di beberapa kampus lain, seperti Uniska dan STIE. 
“Kebanyakan sih alasannya gengsi, terus capek kalau jarak rumah jauh. Tapi misalnya seminggu sekali saja naik sepeda, tidak apa-apa, tidak harus setiap hari,” katanya lagi.
Faisal, mahasiswa semester dua FKIP Unlam jurusan Pendidikan Matematika yang baru sebulan bergabung di B2C Banjarmasin menambahkan, tidak ada perasaan gengsi naik sepeda ke kampus. Selain sehat, mengurangi polusi, juga menghemat uang jajan.
“Dari awal kuliah sudah pakai sepeda. Kalau di jalan kadang sih suka merasa diremehkan, sering diklaksoni, kalau diserempet sudah tak terhitung,” seloroh mahasiswa asal HSU yang tinggal di Jl HKSN itu.
Lain lagi dengan Firman. Mahasiswa semester dua jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unlam yang juga baru sebulan bergiat di B2C Banjarmasin ini mengatakan, naik sepeda punya kenikmatan tersendiri.
“Kalau nggak naik sepeda itu nggak ada rasanya, nggak bisa lihat pemandangan. Kalau naik kendaraan kan biasanya cepat-cepat,” ucapnya yang dari zaman sekolah selalu naik sepeda.
Tahun ini, B2C Banjarmasin punya misi yang cukup besar. Yakni, mendorong kampus agar menyediakan parkiran khusus sepeda yang nyaman dan aman.
“Kalau optimis masih terlalu jauh ya. Tapi mudah-mudahan rektorat memberi lampu hijau,” harapnya.

Selasa, 16 Oktober 2012

Latte Art, Seni Menuang Imajinasi di Cangkir Kopi


Ukiran Nama Favorit Pengunjung

Bagi pecintanya, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Aroma dan rasanya adalah seni yang kaya yang tak habis digali. Secangkir kopi bahkan dapat menjadi kanvas untuk menuangkan imajinasi.

Wahyu (22) menggoreskan logam berujung lancip yang sudah dicelup cokelat di atas busa putih yang memenuhi permukaan secangkir cappuccino. Goresannya membentuk dua lingkaran yang agak berantakan. Kedua lingkaran lalu ditarik-tarik hingga membentuk helai-helai kelopak. Terakhir ia membuat bulatan kecil di tengah cangkir dan diberi bintik-bintik. Voila! Jadilah bunga matahari.
“Latte art lebih cantik pakai cokelat. Selain itu, hasilnya jadi lebih tahan lama,” kata barista atau peracik kopi di sebuah kedai kopi di bilangan Jl Kampung Melayu Darat itu.
Latte art adalah istilah untuk menyebut gambar atau pola di permukaan kopi, khususnya espresso. Berkembang di Italia pada akhir era 1980-an, latte art mulai marak di  diterapkan sejumlah kedai kopi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
“Pernah ada pengunjung minta gambar naga, itu paling susah. Pertama bikin kacau, pas mau gambar semburan api  eh jadinya paruh, malah lebih mirip bebek. Tapi setelah diulang lagi bisa,” kisah Wahyu.
Baru dua bulan lalu mahasiswa semester lima di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari itu belajar membuat latte art. Jiwa seni lukisnya membantu kelincahan tangannya melekuk-lekukkan busa hingga membentuk pola-pola menawan. Sekali lagi Wahyu mendemonstrasikan keahliannya.
Busa dituang membentuk enam bulatan putih kecil dengan komposisi membentuk lingkaran. Keenam bulatan tadi lalu ditoreh di tengah-tengah searah jarum jam. Ajaib! Bulatan-bulatan itu berubah menjadi serupa dedaunan yang mengambang di permukaan air.  
“Ini salah satu pola yang paling sederhana,” ujarnya.
Meski di Banjarmasin kedai kopi makin menjamur, tapi baru segelintir saja yang memasukkan latte art dalam daftar menu. Berry Junaedy (27), sang pemilik kedai kopi menuturkan, itu karena membuat latte art memakan waktu. Makin rumit polanya, makin lama juga penyajiannya.
“Perbandingannya, waktu untuk membuat satu porsi bisa untuk menyelesaikan tiga minuman biasa. Bisa lebih kalau latte art-nya rumit,” kata ayah satu anak yang jatuh cinta dengan kopi sejak menjadi barista di sebuah kafe di Surabaya selepas lulus kuliah perhotelan pada tahun 2005 itu.
Dituturkan arek Suroboyo yang hijrah ke Banjarmasin tahun 2008 tersebut, inti dari latte art adalah permainan foam atau busa. Busa ini dihasilkan dari susu cair yang di-steam. Inilah tahap paling penting sekaligus menentukan dalam pembuatan latte art.
Jika busa yang dihasilkan kasar dan tidak menyatu, maka latte art gagal. Hal itu bisa terjadi jika ada perlakuan yang kurang tepat selama steam berlangsung, misalnya air yang disemprotkan oleh mesin terlalu banyak. Untuk menghasilkan busa yang baik dan lembut, susu cair yang digunakan juga harus berkualitas.
“Dalam bahasa Italia, latte artinya susu. Sebenarnya pakai susu dikasih foam tanpa kopi bisa membuat latte art. Fungsi kopi lebih untuk memberi garis yang lebih tegas, ibaratnya sebagai tinta,” terangnya.
Dalam pembuatan latte art, gelas yang akan dipakai untuk penyajian dipanaskan terlebih dulu. Menurut Berry, maksudnya untuk menyamakan dengan suhu kopi yang nanti dituang agar rasa kopi tidak langsung ‘terbuka’.  Setelah didiamkan 5-10 menit, barulah kopi dituang. Saat menuang kopi dari mesin, bibir cangkir harus ditempelkan.
“Kalau tidak, crema (minyak hasil penggilingan kopi yang muncul dalam bentuk gelembung saat kopi diseduh air, Red) yang terbentuk besar-besar dan ikut naik ke permukaan, latte art-nya jadi nggak bagus,” imbuhnya.
Selanjutnya, giliran susu yang telah di-steam dituang ke dalam cangkir. Terakhir, busa yang tertinggal di dasar gelas yang dipakai dalam proses steam ditata di permukaan paling atas cangkir sesuai pola yang ingin dibuat. Perbandingan kopi, susu, dan busa masing-masing sepertiga dari ukuran cangkir.
Dijelaskan Berry, secara garis besar ada dua teknik membuat latte art. Pertama, sistem tuang dengan cara mengatur jatuhnya susu dan busa sedemikian rupa sehingga membentuk pola. Kedua, digambar secara manual dengan bantuan tusuk gigi atau bilah. Untuk lebih mempercantik, terkadang barista menambahkan cokelat atau sirup. Latte art bisa bertahan rata-rata 10-15 menit.
 “Banyak gambar yang bisa dibuat. Tapi kebanyakan pengunjung di sini pesannya tulisan nama mereka dan nama pasangannya,” katanya.
Setiap cappuccino yang dipesan pengunjung di kedai kopi milik Berry biasanya selalu diberi latte art walau si pemesan tidak meminta. Sejumlah pengunjung yang awam tentang latte art pun dibuat surprised saat cappuccino mereka diantar lengkap dengan hiasan nama mereka di atasnya. Di samping belum banyak kedai kopi di Banjarmasin yang menyajikannya, tampaknya latte art sendiri belum terlalu populer di kuping sebagian warga Banjarmasin. Eva (25) salah satunya.
“Baru sekali ke sini, mau coba cappuccino-nya aja. Nggak pesan pakai tulisan nama segala, soalnya nggak tahu. Tapi tadi pas pesan ditanya sih atas nama siapa,” ucap karyawan swasta di salah satu perusahaan di Banjarmasin itu.