A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Miftahur Rahman El-Banjary, Penulis dan Motivator

Dari Pelosok ke Negeri Para Nabi

Lahir dan tumbuh besar di pelosok, tapi Miftahur Rahman (27) sukses memegang predikat lulusan master Timur Tengah termuda dari Indonesia. Sampai sarjana tak pernah menulis, tapi kini ia malah jadi penulis dan wara-wiri memberi motivasi.

“Dulu tidak pernah terbayang saya bisa memberikan inspirasi bagi banyak orang dengan buku-buku yang saya tulis, meskipun sebenarnya masih sangat minim sekali. Apalagi dengan background pesantren ‘sarungan’ yang terkungkung pada budaya dan pemikiran klasik, sulit membayangkan pencapaian saya sekarang,” tutur anak muda banua kelahiran Jaro Kabupaten Tanjung, 16 Maret 1984 itu.
Di kecamatan yang terletak di ujung Kalimantan Selatan yang berbatasan dengan Kalimantan Timur itulah masa kecilnya dihabiskan. Jauh dari keramaian kota, satu-satunya media yang memberikan wawasan waktu itu cuma majalah anak-anak yang dibeli setiap minggu.
Bungsu dari dua bersaudara itu juga punya hobi korespondensi dengan anak-anak dari daerah lain di Nusantara yang menjadi sahabat penanya. Saat kelas V SD, ia pernah mengirim surat untun mantan Presiden Soeharto dan mendapat balasan.
“Sejak kecil saya sudah mulai mengagumi tokoh-tokoh besar yang sukses, mulai suka mengamati keberhasilan yang mereka lakukan, dan membaca karya-karya mereka,” katanya.
Ketika duduk di kelas II MTs Negeri Jaro, angan-angan menuntut ilmu di pusat pendidikan Islam dunia, Mesir, terbersit dibenaknya.  Namun, setamat MTs ia malah menyimpang ke pondok pesantren salafi yang tidak mengeluarkan ijazah formal.
Tercatat ia pernah nyantri di PP Darussalam Martapura dan PP Ibnu al-Amin Pemangkih HSU, sebelum kemudian pindah ke Madrasah Aliyah di Muara Komam Kalimantan Timur dan mendapatkan ijazah formal sehingga bisa melanjutkan kuliah ke IAIN Antasari Banjarmasin.
“Pas semester lima, saya coba-coba ikut seleksi beasiswa S1 ke Universitas al-Azhar Kairo yang diselenggarakan oleh Departemen Agama. Alhamdulillah, dari 30 peserta 3 orang berhasil lulus mewakili wilayah Kalimantan. Dari 3 orang tersebut, hanya saya yang kemudian mengikuti tes tahap dua di Kedubes Mesir di Jakarta,” kenangnya.
Karena kendala waktu pemberangkatan yang lama, ia harus menunggu sekitar 1,5 tahun. Selama menunggu, ia pun ngebut menyelesaikan S1 di Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab IAIN Antasari Banjarmasin.  Tiga hari setelah wisuda pada tahun 2006 silam, ia pun akhirnya terbang ke negeri para nabi itu.
“Di Kairo, saya mengalami banyak masalah. Saya tidak bisa diterima di al-Azhar karena ijazah saya sudah kadaluarsa tahunnya. Tapi berbekal ijazah S1 yang saya kantongi, saya bisa melanjutkan ke S2 di universitas yang tidak kalah bagusnya dan lebih nyambung dengan jurusan saya ketika di Indonesia, yakni spesialisasi Bahasa Arab,” sambungnya.
Tahun 2011, gelar master diraihnya dari Fakultas Sastra dan Bahasa Arab Universitas Liga Arab Kairo Mesir. Ia pun ditahbiskan sebagai lulusan master Timur Tengah termuda dari Indonesia. Prestasi ini tentu istimewa karena standar orang Arab dan tingkat kesulitan menempuh kuliah yang berkali lipat dari standar pendidikan di dalam negeri. Saat ini, ia tengah menggarap desertasi program doktoral di universitas yang sama.
“Beberapa waktu setelah pengukuhan sebagai master, saya mendapatkan kesempatan sebagai orang Indonesia pertama yang diundang salah satu stasiun televisi Mesir untuk melakukan wawancara dalam program Delegasi Keilmuan Internasiona dengan bahasa Arab,” ujarnya.
Selama di Mesir, terkadang kesepian dan rindu kampung halaman menghinggapi hatinya. Suatu kali di tahun 2008, ia berkenalan dengan blog, yang kemudian menjadi ruang untuk mengisi kesendiriannya dengan menulis. Tak dinyana, ia yang sampai lulus S1 tidak pernah menulis artikel, cerpen, ataupun puisi, ternyata mampu menghasilkan ratusan tulisan. Pada 2010, ia ‘nekat’ menerbitkan buku sendiri, judulnya"Quantum Motivation".
“Beberapa tulisan saya pernah dimuat di media massa nasional online, dan kebetulan ada seorang editor dari sebuah penerbit besar di Indonesia yang tertarik dengan tulisan saya,” imbuhnya.
Sekitar enam bulan lalu, bukunya yang kedua berjudul “Dahsyatnya Potensi Ahsanu Taqwim” pun dilempar ke pasaran dengan tambahan “El-Banjary” di belakang namanya guna menegaskan asal muasal sang penulis.
Bulan depan, buku selanjutnya yang terilhami dari kisah inspiratif pengembaraannya ke Mesir dan diberi judul “Keajaiban 1000 Dinar” akan menyusul. Di pertengahan tahun 2012, ia bahkan sudah berencana untuk menerbitkan dua buku lagi.
Ia sendiri menargetkan dalam beberapa tahun ke depan bisa menerbitkan minimal 10 buku bergizi yang menginspirasi, selain mengejar gelar doktor dan profesor muda, sambil pula tetap menggeluti aktivitas memotivasi orang lain.
“Saya hanya ingin hidup yang singkat ini bermakna dan bisa dikenang dengan kebaikan yang kita berikan. Di samping ada sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa generasi muda Banjar juga bisa berprestasi dan mengambil peranan penting serta berkiprah di kancah nasional bahkan internasional,” ucapnya. 

Minggu, 12 Juni 2011

Drs H Syarifuddin Muhammad MM, Qari Internasional Asal Kalsel

Dari Kampung ke Abu Dhabi

Lahir di lingkungan keluarga Qurani, membuat qari internasional asal Kalimantan Selatan Drs H Syarifuddin Muhammad MM sudah bersentuhan dengan Alquran sejak kecil. Belajar dan mengajarkan Alquran pun kini menjadi jalan hidupnya. Dengan menggeluti Alquran pula, putra asli Kandangan ini bisa menjelajah dunia. Bagaimana kisahnya?

"Saya ini orang kampung, ke Banjarmasin saja dulu rasanya sudah wah. Tidak pernah terbayang bisa seperti sekarang," ucapnya mengawali obrolan saat ditemui di sela-sela tugasnya sebagai Wakil Sekretaris Dewan Hakim pada Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XXI di Banjarmasin beberapa waktu lalu.

Anak pertama dari delapan bersaudara pasangan Muhammad-Masjam ini lahir di pada 25 November 1957 di Desa Sungai Kacil Wasah Hilir Kecamatan Simpur, Kandangan Hulu Sungai Selatan.

“Ayah saya guru mengaji, sedangkan Ibu aktif dalam pengajian. Selain orang tua, kakek saya H Thohir ikut membimbing karena beliau memang punya cita-cita ada di antara anak-anak dan cucu yang akan menggantikan beliau,” tuturnya.

Untuk lebih mendalami ilmu Alquran, Syarifuddin kecil berguru dengan sejumlah ulama di kampungnya, seperti Tuan Guru HM Sani yang sebelumnya cukup lama belajar Alquran di Mekkah. Di samping itu, ia juga menjadi santri di Darul Ulum Kandangan mulai dari tingkat tsanawiyah sampai aliyah. Gurunya yang lain adalah Ustad Abu Hurairah dimana ia belajar tajwid, sedangkan untuk melagukan Alquran ia dibimbing sang paman HM Darmawi yang pernah ikut MTQ nasional beberapa kali. Dari situlah ia mulai mengenal membaca Alquran dengan lagu.

“Dulu kan mainan tidak banyak, main ya di musala, entah mengaji atau salawatan. Itu juga barangkali yang membuat saya fokus karena tidak banyak gangguan,” tambahnya.

Perkenalan ayah lima anak ini sendiri dengan kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dimulai pada tahun 1969, dimana waktu itu ia mewakili Kalsel pada MTQ Nasional tingkat pelajar di Bandung setelah sebelumnya menjuarai even serupa di tingkat kabupaten dan provinsi.

“Waktu itu saya belum berhasil, tapi pengalaman bertemu dengan teman-teman se-Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi waktu itu kita juga diajak jalan-jalan, salah satunya ke teropong bintang. Itu yang kemudian memotivasi saya untuk terus maju,” kenangnya.

Setelah vakum cukup lama, pada tahun 1977 ia kembali aktif mengikuti MTQ tingkat provinsi dan meraih juara kedua.

Sementara itu, usai menyelesaikan pendidikan aliyah, suami dari Hj Rumiyah ini kemudian melanjutkan ke IAIN Antasari. Namun, selang empat bulan kemudian, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta yang pada masa itu merupakan satu-satunya perguruan tinggi khusus ilmu Alquran. Sekadar informasi, cikal bakal pendirian PTIQ muncul pada penyelenggaraan MTQ Nasional di Kalsel pada tahun 1970.

“Mahasiswanya merupakan perwakilan dari tiap provinsi, seleksinya sangat ketat. Dengan izin Allah, saya yang terpilih di antara teman-teman,” ucapnya.

Setelah masuk PTIQ, ia merasa lebih percaya diri karena bekal keilmuan yang lebih mantap. Pada MTQ Nasional tahun 1988 di Lampung, ia berhasil keluar menjadi yang terbaik. Prestasi inilah yang kemudian membawanya ke kancah dunia dengan mengikuti MTQ tingkat internasional di Kualalumpur Malaysia pada tahun yang sama. Dari seluruh peserta yang berasal hampir dari 30 negara, lagi-lagi ia terpilih sebagai juara pertama. Pulang ke Indonesia, ia mendapat hadiah berangkat haji bersama istri. Tak cukup sampai di situ, ia juga ditawari menjadi pegawai negeri di lingkungan Kementerian Agama RI. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Seksi Pembinaan Qari Qariah dan Hafidz Hafidzah Subdit MTQ Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag RI.

“Berkat Alquran, saya bisa kuliah gratis, berangkat haji, keluar negeri, dan jadi PNS. Makanya, saya kalau diminta untuk Alquran tidak bisa menolak karena sudah terlalu banyak yang Allah berikan untuk saya. Mudah-mudahan sampai mati pun saya tetap dalam langkah untuk menggiatkan Alquran,” harapnya.

Setelah juara MTQ internasional, diakuinya banyak kesempatan yang datang kepadanya, seperti undangan tilawah ke Abu Dhabi pada tahun 1994.

“Total tiga kali saya diundang ke sana setiap bulan Ramadan. Saya ditugaskan ke masjid-masjid untuk membaca Alquran, kadang menjelang tarawih, setelah tarawih atau menjelang witir,” ungkapnya.

Pada tahun 1998, ia tiba-tiba mendapat surat dari pemerintah Abu Dhabi yang isinya bahwa mereka tengah membutuhkan imam masjid. Ia pun menerima tawaran itu karena merasa nyaman tinggal di negara tersebut sekaligus ingin mendalami bahasa Arab. Selama kurang lebih 3,5 tahun, ia menjadi imam di Masjid Hanzalah bin Abi Amir di Abu Dhabi sambil mengisi pengajian di KBRI setempat.

“Sekarang saya sudah tidak aktif lagi sebagai peserta di MTQ, tapi sebagai panitia. Makanya, saya jadi sering keliling daerah dan mendampingi utusan Indonesia ke luar negeri,” kata Wakil Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu.

Merasakan berkah yang begitu besar dari menggeluti Alquran, ia pun selalu menitipkan pesan kepada para juniornya untuk selalu istiqamah dengan jalan yang telah dipilihkan oleh Allah.

“Kalau sudah terjun ke Alquran, jangan berbalik. Ini adalah pilihan Allah yang terbaik asal betul-betul kita amalkan, Jangan lupa juga menuntut ilmu. Tak hanya bisa baca Alquran, tapi ilmunya juga dikaji,” tandasnya.

Minggu, 16 Mei 2010

"Praktek komunikasi politik belum ideal..."

Betapa politik pencitraan kini menjadi bahasa yang awam digunakan oleh para calon kepala daerah untuk mengkomunikasikan dirinya kepada publik meski terkadang cara-cara yang ditempuh berbau propaganda. Namun, Drs Masdari M.Si meyakini bahwa tipe masyarakat Banjarmasin yang individualis kompetitif tidak akan bisa dengan mudah dipengaruhi begitu saja. Apa maksudnya?

Secara real, komunikasi politik yang dilakukan oleh para calon kepala daerah yang kini tengah bersaing memperebutkan kursi nomor satu baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota belum seideal yang diinginkan dalam disiplin Ilmu Komunikasi. Justru ada gejala kampanye yang dilakukan lebih mengarah kepada propaganda politik.

Demikianlah penilaian Drs Masdari M.Si, dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin. Magister Ilmu Komunkasi jebolan Universitas Dr Soetomo Surabaya yang sehari-harinya juga aktif di Komisi Informasi dan Media Massa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan ini mengatakan bahwa praktek komunikasi politik dan propaganda politik dewasa ini nampak bias, namun sesungguhnya kedua istilah ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

"Kalau komunikasi politik intinya mengajak publik supaya memberikan support kepada kandidiat dalam rangka melaksankan visi dan misi untuk menggolkan tujuan-tujuan pembangunan. Kalau propaganda politik yang tujuan untuk merealisasikan pembangunan itu nomor dua, yang utama adalah ingin duduk sebagai penguasa," ujarnya.

Menurutnya, komunikasi politik tidak menghendaki aturan main yang sifatnya mencaci, menuding, menyalahkan, apalagi sampai mendiskreditkan.

"Selebaran gelap, friksi-friksi antar tim sukses, atau segala tindakan yang mengarah pada pembohongan publik itu merupakan bentuk propaganda politik. Jika asas komunikasi dipegang teguh, Pemilukada pasti akan berlangsung aman dan damai karena masing-masing pihak dapat menahan dan mengendalikan diri," katanya lagi.

Sebaliknya, jika yang marak adalah propaganda politik, ia menyebut bahwa pesta demokrasi akan menjadi bebas nilai dimana demi meraih atau mempertahankan sebuah kedudukan, para kandidat akan menghalalkan segala cara.

"Nah, kalau yang terjadi adalah propaganda politik, yang sukses sebenarnya bukan kandidatnya, tapi tim suksesnya. Yang jadi korban justru kandidat. Apalagi kalau kandidat sudah seratus persen mendelegasikan wewenang kepada tim sukses masing-masing," ucapnya.

Meskipun dalam pengamatannya ia menangkap ada warna propaganda yang berujung pada upaya pembunuhan karakter dalam iklan-iklan kampanye calon kepala daerah belakangan ini, namun secara umum lelaki yang juga aktif sebagai tim penyunting sejumlah jurnal kampus ini menilai bahwa para elit politik di daerah ini masih punya moral, aturan, dan kaidah.

"Saat ini saya masih melihat adanya etika itu. Setidak-tidaknya ada keinginan atau good will untuk meletakkan persoalan pada tempat yang semestinya, misalnya masalah jargon. Ketika kita tidak mendudukkan persoalan pada posisi yang sebenarnya, terjadilah propaganda politik. Bisa salah interpretasi, malah bisa menjadi serangan balik. Terutama oleh mereka yang merasa sebagai lawan yang merasa itu tidak menguntungkan mereka," paparnya.

Ia berharap para elit politik masa kini dapat belajar dari pengalaman di masa lalu, yakni peristiwa kerusuhan 23 Mei 1997 atau yang dikenal dengan Tragedi Jum'at Kelabu. Pada dasarnya, ujarnya, pengalaman pahit itu juga berawal dari komunikasi politik yang menyimpang menjadi propaganda politik.

"Saya berharap para kandidiat dapat memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Kalau memberi janji jangan yang muluk-muluk. Sebab ini pada gilirannya akan memberikan pencitraan yang negatif kepada kandidiat yang bersangkutan. Saya melihat selama ini kandidat yang mampu memberikan pendidikan politik untuk masyarakat masih sedikit," katanya.

Meski demikian, dalam pandangannya masyarakat Banjarmasin sendiri sebenarnya bukanlah tipe masyarakat yang gampang dipengaruhi, didikte, diarahkan, apalagi digiring dengan propaganda politik karena mereka sudah mengalami pendewasaan. Ia melihat bahwa masyarakat Banjarmasin telah mengalami proses pendewasaan dari pengalaman-pengalaman yang telah lewat sehingga akhirnya mereka menjadi masyarakat yang kritis.

"Di benak mereka sudah terbentuk semacam pemikiran bahwa hal-hal semacam ini sudah biasa dan lumrah terjadi. Kita bisa lihat gejala umum dimana ketika masyarakat didatangi oleh satu tim sukses mereka terima. Nanti tim sukses lain datang, juga diterima. Tapi masalah memberi dukungan nanti saat hari H," ujarnya.

Hal ini, katanya, juga berlaku dalam kampanye yang mengangkat isu agama yang selama ini dianggap sebagai isu yang paling menjual di tengah masyarakat Banjarmasin yang religius. Ini dikarenakan karakter masyarakat Banjarmasin yang secara antropologis tergolong individualis kompetitif.

"Dalam masalah agama masyarakat kita memang memiliki semangat yang tinggi, tapi dalam tataran individu atau pribadi saja, tidak untuk mengajak pada orang lain. Jadi, kalau ada jargon politik yang mengangkat isu keagamaan, sedikit banyak pasti ada pengaruh, tapi tidak akan melahirkan pencitraan politik yang masal. Buktinya kan sekarang kandidiat manapun yang mengadakan pengajian, majelis taklim, atau tablik akbar selalu dipenuhi oleh masyarakat. Isu agama memang bisa menarik perhatian, tapi jangan berharap banyak bahwa hanya dengan satu itu masyarakat bisa didikte atau mampu mengkonsentrasikan pilihan masyarakat hanya karena isu agama karena masih ada faktor lain yang mempengaruhi. Boleh jadi faktor lain itu yang menentukan," bebernya.

Nah, memasuki musim kampanye para calon kepala daerah baik untuk tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, ia pun berharap agar semua kandidat bisa memposisikan diri dalam bingkai komunikasi politik yang ideal, yakni politik yang santun, bermartabat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, keberagaman, dan sosia.

"Kepada KPU selaku yang mengomando Pemilukada agar meningkatkan peran aktifnya dan kepada tim sukses agar benar-benar menyukseskan calonnya, bukan tim suksesnya," himbaunya.


BIODATA

Nama : Drs Masdari Msi

Tempat Tanggal Lahir : Martapura, 12 November 1961

Alamat : Jl Bahagia RT 13 No 05 Teluk Tiram Darat Kec Banjarmasin Barat Banjarmasin

Pendidikan : MIN Kelayan Banjarmasin (1974)
PGA NU Kelayan Banjarmasin (1978)
PGAN Mulawarman Banjarmasin (1981)
Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin (1987)
Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo Surabaya (2002)

Pekerjaan : Dosen Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin (2002-sekarang)
Kepala Stasiun Radio Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin (2002-2006)
Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin (2004-2008)
Ketua Jurusan Teknik Informatika Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin (2008-sekarang)
Tim Penyunting Sejumlah Jurnal Kampus

Selasa, 06 April 2010

Banyak Lembaga Pendidikan Terjebak dalam Distorsi Pendidikan

Sejatinya, pendidikan adalah lembaga nonprofit atau nirlaba. Namun, kini nampaknya telah terjadi pergeseran orientasi dalam dunia pendidikan dimana ada kecenderungan lembaga pendidikan dijadikan sebagai wahana bisnis bagi pengelolanya. Kualitas lulusan pun menjadi prioritas nomor dua.

Bicara kualitas lulusan perguruan tinggi saat ini, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, Drs Deli Anhar M.Ap lebih tertarik memulainya dari aspek proses yang menghasilkan lulusan tersebut. Ia menyebut bahwa kini ada fenomena yang dinamainya distorsi pendidikan dimana ada pihak-pihak yang terperangkap dalam tujuan pragmatis atau jangka pendek. Hanya demi memenuhi tuntutan pasar, esensi pendidikan itu sendiri menjadi terabaikan.

“Misalnya, ramai-ramai membuka program studi yang sedang diminati pasar, tapi tidak berupaya menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan standar yang dikehendaki,” ujarnya.

Ia menilai, tujuan pendidikan semestinya tetap pada idealismenya untuk menghasilkan sumebr daya manusia yang berkualitas, namun juga menyesuaikan dengan tuntutan pasar.

“Makanya sekarang dalam membuat kurikulum, perguruan tinggi diharuskan untuk melibatkan salah satunya organisasi profesi atau pengguna langsung, yaitu orang-orang yang bekerja di sektor yang sesuai dengan program studi yang bersangkutan agar cocok dengan lapangan kerja yang tersedia,” imbuhnya.

Proses pendidikan yang bagus, ujarnya, sangat dipengaruhi oleh beberapa variabel yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan. Pertama, variabel visi-misi, tujuan, sasaran, dan target pencapaian.

“Visi-misi harus dibuat secerdas mungkin agar arah pendidikan benar-benar menuju kepada quality assurance. Institusi itu bukan benda mati, melainkan harus bisa mengikuti perkembangan, termasuk perubahan lingkungan. Pencapaiannya juga harus jelas. Ada program dan tahapan-tahapan yang jelas dan yang terpenting harus terukur,” urainya.

Kedua, variabel leadership. Menurutnya, lembaga pendidikan harus dipimpin pimpinan yang punya inteletualitas, integritas, moralitas, dan kapabilitasn yang memadai.

“Yang paling penting juga mampu bertindak sebagai manajer, termasuk bagaimana menggerakkan seluruh sumber daya yang dimiliki lembaga itu. Jangan sampai ada unit-unit tertentu yang berkembang cepat dan ada yang lamban, atau ada dosen yang kemampuannya berlebihan dan ada yang ketinggalan. Itu namanya sistem yang tidak komprehensif atau parsial,” katanya.

Ditambahkannya juga, lembaga pendidikan harus membuat standar mutu dimana lulusan perguruan tinggi saat ini dituntut berkualitas dan kompetitif atau sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ketiga, mahasiswa semestinya diterima melalui seleksi yang ketat. Ia menyatakan bahwa sekarang bukan zamannya lagi menerima mahasiswa secara berlebihan, tapi betul-betul disesuaikan dengan rasio.

“Jadi, menerima murid itu harus dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan emosional. Apalagi kalau ingin mengefektifkan kegiatan belajar mengajar. Lebih-lebih tuntutan belajar sekarang itu bukan lagi transformation knowledge, tapi exploration knowledge. Guru dan mahasiswa sama-sama mencari bahan-bahan pembelajaran agar semakin banyak yang dipelajari agar dihasilkan lulusan yang benar-benar berkualitas, salah satu cirinya adalah mandiri. Tidak mengganggur terlalu lama setelah lulus, bahkan kalau perlu di inden lebih dulu oleh dunia usaha,” cetusnya.

Keempat, sumber daya manusia terutama tenaga pendidik. Diharapkan, ujarnya, dosen memiliki dua hal, yaitu strata pendidikan yang minimal yang menunjukkan kemampuan akademiknya dan jabatan fungsional, misalnya di bidang penelitian atau pengabdian.  

“Selain itu, ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik, seperti kompetensi sosial atau kemampuannya bermasyarakat, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional, yaitu wawasan, komitmen, dan kompetensi,” tuturnya.

Kelima, standar kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik. Kurikulum didesasin berbasis kompetensi dan sesuai minat mahasiswa serta memasukkan unsur muatan lokal

“Sedangkan proses pembelajaran harus berlangsung sesuai standar, baik dari segi SKS, waktu, dan pola. Kemudian suasananya, bagaimana menciptakan academic atmosphere dimana saja, tidak hanya di ruang kelas,” katanya.

Keenam, standar pendanaan. Kualitas tentu saja tidak dapat dihasilkan tanpa anggaran yang memadai. Pendanaan ini terkait dengan banyak hal, seperti pernghargaan yang diberikan kepada dosen, sarana prasarana, dan sistem informasi yang memungkinkan mahasiswa mengakses ilmu pengetahuan seluas-luasnya.

“Yang terpenting adalah pelan-pelang mengurangi beban mahasiswa. Alangkah eloknya kalau biaya pendidikan tidak bergantung pada orang tua murid,” imbuhnya.

Sedangkan variabel yang terakhir atau ketujuh, adalah variabel pengembangan, penelitian, dan pengabdian.

Secara umum, ujarnya, lebih banyak lembaga pendidikan yang belum menyadari hal-hal yang disebutkannya itu. Selain itu, untuk mencapai ke arah sana diperlukan sumber daya yang tidak sedikit dan keseriusan. Oleh karena itu, ia berharap pihak swasta ikut membantu mempercepat proses tersebut.


Meski demikian, ia juga melihat sudah ada sejumlah lembaga pendidikan yang mengarah pada terciptanya sistem pendidikan yang ideal itu, misalnya yang ditunjukkan dengan akreditasi atau standarisasi ISO.

“Tapi kenapa sudah berkualitas ternyata tetap tidak banyak juga yang bisa terserap di dunia kerja? Itu karena memang lapangan kerjanya juga terbatas. Selain itu, untuk lulusan S-1 memang statusnya masih siap untuk dikembangkan karena mereka lebih banyak diajarkan teori. Kalau diterima di suatu perusahaan, maka mereka memang harus mengikuti pendidikan dan pelatihan di perusahaan tersebut. Lain dengan pendidikan profesi atau D-3 dimana mereka diajarkan 70 persen praktek, jadi sudah mengarah pada hal-hal yang teknis dan praktis, sehingga mereka menjadi tenaga siap pakai,” pungkasnya. (mr-108)


Pendidik Harus Punya Self Introspection

Bergelut di dunia pendidikan sejak tahun 1988, Deli Anhar merasa ada banyak hal yang telah didapatkannya.

“Saya menjadi dosen atas dasar minat yang tentu diawali dengan niat. Kenapa? Karena memang bagi saya, banyak hal yang bisa didapat dengan jadi pendidik. Pertama, tantangan untuk terus mengikuti perkembangan-perkembangan, khususnya yang terkait dengan disiplin ilmu. Tenaga pendidik itu dituntut memiliki wawasan, kreatifitas, dan inovasi. Apalagi sekarang tenaga pendidik dituntut profesional yang dibuktikan dengan sertifikasi,” tuturnya.

Kedua, sambungnya, menjadi pendidik membuatnya memiliki banyak teman. Dan ketiga, ada kepuasan batin yang luar biasa ketika melihat murid yang telah dididik berhasil menjadi orang.
“Ini yang tak dimiliki oleh profesi lain,” ucapnya bangga.

Menjadi seorang pendidik sendiri, bagi Deli Anhar memiliki filosofi yang sangat sederhana, namun maknanya begitu dalam. Dengan menjadi pendidik, ujarnya, berarti menjadikan diri sendiri terlebih dahulu sebagai pribadi yang terdidik baik secara intelektual maupun secara moral dan integritas.

“Jadi, merasa diri ini lebih terkontrol. Menjadi pendidik itu self introspection-nya harus tinggi karena pendidik harus jadi panutan,” cetusnya.