BANJARMASIN – Sebulan jelang Hari Idul Adha 1431 H, para pedagang hewan ternak di Banjarmasin belum melakukan penambahan pasokan khusus untuk kebutuhan hewan kurban. Namun, diperkirakan jumlah hewan kurban tahun 2010 akan turun dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distankan) Kota Banjarmasin, drh Priyo Eko kemarin mengatakan sampai saat ini pedagang belum mendatangkan hewan khusus karena masih dianggap terlalu lama. Pasalnya, begitu didatangkan, pedagang diharuskan untuk merawat sampai hari H pemotongan.
“Memang banyak hewan yang datang, tapi bukan untuk kurban, untuk kebutuhan konsumsi biasa saja,” ujarnya.
Dari data Distankan, dari tahun ke tahun jumlah hewan kurban cenderung naik sekitar 2-3 persen.
“Dulu tahun 1992, jumlahnya sekitar 400 ekor. Sekarang sudah mendekati 1000 ekor,” katanya.
Tahun 2009 lalu, jumlah hewan kurban di Banjarmasin berkisar 900-1000 ekor. Angka yang cukup tinggi ini disinyalir sedikit banyak dipengaruhi oleh pelaksanaan Pemilukada. Tahun ini, jumlah hewan kurban pun diprediksi akan turun.
“Saya rasa ada pengaruh yang cukup signifikan antara mau Pemilukada dan tidak,” ucapnya seraya tersenyum.
Sementara itu, pasokan hewan kurban ke Banjarmasin biasanya baru akan ramai dua pekan sebelum hari H dan mencapai puncaknya pada H-10. Untuk kambing didatangkan dari Jawa Timur, sedangkan sapi dari Jawa Timur (Madura), NTT, dan NTB. Harganya pun tentu akan meroket. Jika normalnya berkisar Rp 28 ribu per kilogram, maka untuk hewan kurban bisa mencapai Rp 35 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk menjamin kesehatan hewan-hewan ini, pemeriksaan akan dihandel oleh Badan Karantina Hewan.
“Kalau hewan kurban pemeriksaannya tidak terlalu rumit karena biasanya memang lebih bagus dan sehat. Justru untuk hewan konsumsi biasa, pemeriksaan lebih rumit karena kadang ada yang terlalu kurus, tua, dan sebagainya,” terangnya.
Distankan sendiri juga akan membentuk panitia pemeriksaan hewan dan daging kurban, terutama yang datang dari luar daerah terkait dengan kelengkapan dokumen karantinanya.
Dari pengalaman tahun-tahun yang lewat, ia mengungkapkan bahwa yang paling sering menjadi temuan adalah adanya cacing hati, cacing pita, dan cacing ascaris pada organ seperti hati dan paru-paru. Jika sampai termakan oleh manusia dan sebelumnya dimasak dengan cara yang kurang baik, maka bisa sangat berbahaya.
“Organ tersebut harus dibuang, jangan sayang. Soalnya selain cacingnya yang kelihatan, ada banyak telur cacing yang tidak kelihatan. Kemudian, dimasaknya juga jangan disate, tapi digulai atau jenis masakan lainnya yang lebih efektif untuk mematikan penyakitnya,” imbuhnya.
Memang sebelum disembelih, lanjutnya, agak susah untuk mendeteksi hal ini. Bagi masyarakat yang ingin membeli hewan kurban, tentu harus jeli untuk memilih hewan yang sehat.
“Yang jelas harus pilih yang sehat, matanya tidak belekan, dan bulunya mengkilap. Kalau kusam dan banyak yang berdiri, sebaiknya jangan dibeli,” sarannya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distankan) Kota Banjarmasin, drh Priyo Eko kemarin mengatakan sampai saat ini pedagang belum mendatangkan hewan khusus karena masih dianggap terlalu lama. Pasalnya, begitu didatangkan, pedagang diharuskan untuk merawat sampai hari H pemotongan.
“Memang banyak hewan yang datang, tapi bukan untuk kurban, untuk kebutuhan konsumsi biasa saja,” ujarnya.
Dari data Distankan, dari tahun ke tahun jumlah hewan kurban cenderung naik sekitar 2-3 persen.
“Dulu tahun 1992, jumlahnya sekitar 400 ekor. Sekarang sudah mendekati 1000 ekor,” katanya.
Tahun 2009 lalu, jumlah hewan kurban di Banjarmasin berkisar 900-1000 ekor. Angka yang cukup tinggi ini disinyalir sedikit banyak dipengaruhi oleh pelaksanaan Pemilukada. Tahun ini, jumlah hewan kurban pun diprediksi akan turun.
“Saya rasa ada pengaruh yang cukup signifikan antara mau Pemilukada dan tidak,” ucapnya seraya tersenyum.
Sementara itu, pasokan hewan kurban ke Banjarmasin biasanya baru akan ramai dua pekan sebelum hari H dan mencapai puncaknya pada H-10. Untuk kambing didatangkan dari Jawa Timur, sedangkan sapi dari Jawa Timur (Madura), NTT, dan NTB. Harganya pun tentu akan meroket. Jika normalnya berkisar Rp 28 ribu per kilogram, maka untuk hewan kurban bisa mencapai Rp 35 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk menjamin kesehatan hewan-hewan ini, pemeriksaan akan dihandel oleh Badan Karantina Hewan.
“Kalau hewan kurban pemeriksaannya tidak terlalu rumit karena biasanya memang lebih bagus dan sehat. Justru untuk hewan konsumsi biasa, pemeriksaan lebih rumit karena kadang ada yang terlalu kurus, tua, dan sebagainya,” terangnya.
Distankan sendiri juga akan membentuk panitia pemeriksaan hewan dan daging kurban, terutama yang datang dari luar daerah terkait dengan kelengkapan dokumen karantinanya.
Dari pengalaman tahun-tahun yang lewat, ia mengungkapkan bahwa yang paling sering menjadi temuan adalah adanya cacing hati, cacing pita, dan cacing ascaris pada organ seperti hati dan paru-paru. Jika sampai termakan oleh manusia dan sebelumnya dimasak dengan cara yang kurang baik, maka bisa sangat berbahaya.
“Organ tersebut harus dibuang, jangan sayang. Soalnya selain cacingnya yang kelihatan, ada banyak telur cacing yang tidak kelihatan. Kemudian, dimasaknya juga jangan disate, tapi digulai atau jenis masakan lainnya yang lebih efektif untuk mematikan penyakitnya,” imbuhnya.
Memang sebelum disembelih, lanjutnya, agak susah untuk mendeteksi hal ini. Bagi masyarakat yang ingin membeli hewan kurban, tentu harus jeli untuk memilih hewan yang sehat.
“Yang jelas harus pilih yang sehat, matanya tidak belekan, dan bulunya mengkilap. Kalau kusam dan banyak yang berdiri, sebaiknya jangan dibeli,” sarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar