Sekolah yang berlokasi di Jl Tembus
Perumnas Komplek Berkah RT 42 Kelurahan Alalak Utara Kecamatan Banjarmasin
Utara itu hanya berukuran 18x8 meter. Tak ada halaman, sehingga upacara bendera
setiap hari Senin tak pernah diadakan. Atap sengnya sudah berlubang-lubang.
Demikian pula dindingnya yang tersusun dari kayu.
Bangunan sempit itu disekat-sekat dengan
triplek tipis menjadi kelas-kelas. Di salah satu ruang kelas, tripleknya tampak
berlubang sehingga siswa yang kelasnya bersebelahan bisa saling melihat.
“Kalau belajar suaranya pasti terdengar
ke kelas lain. Misalnya lagi belajar Bahasa Arab di salah satu kelas, gurunya
mengajukan pertanyaan, yang di kelas lain kadang suka ikut menjawab,” ujar
Kepala MI Al Qalam Nurjannah kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (2/6).
MI Al Qalam berdiri sejak tahun 2005 di
bawah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Qalam. Nurjannah yang juga pemilik
yayasan mengungkapkan, di sekitar sekolah banyak anak kurang mampu.
“Di sekolah lain kan mahal. Kalau di
sini tidak bayar, hanya di awal masuk saja kami mintakan Rp 200 ribu.
Setengahnya untuk menebus baju olahraga dan atribut sekolah, sisanya untuk
pembangunan sekolah,” tuturnya.
Sejak awal berdiri, sekolah sempat
beberapa kali pindah lokasi. Pertama yayasan dipinjami sebuah rumah di Komplek
Herlina, sekitar 200 meter dari lokasi sekarang. Setelah satu tahun, sekolah
pindah ke Komplek Berkah, tapi agak di dalam. Satu tahun kemudian, sekolah
pindah lagi ke Komplek Herlina setelah ada masyarakat yang menghibahkan tanah.
Tapi hanya bertahan setahun, sekolah lagi-lagi harus dipindah karena tak punya
akses jalan akibat tertutup pemukiman baru.
“Ada yang jual tanah di sini, kita beli.
Bangunan sekolah yang lama dibongkar, lalu dibawa ke sini,” sambungnya.
Selain dari lingkungan sekitar, siswa
yang belajar di sini juga ada yang berasal dari Sungai Andai, bahkan hingga ke
Handil Bakti. Rata-rata orangtua mereka bekerja sebagai buruh. Tak sedikit juga
anak panti asuhan yang kebetulan berlokasi dekat sekolah.
Diungkapkan Nurjannah, pihaknya
berencana mendirikan bangunan yang lebih representatif. Tiga kapling tanah di
belakang sekolah sudah dibeli dari dana pribadi dan donasi orangtua murid serta
para dermawan. Tapi masih dibutuhkan empat kapling lagi. Menurutnya beberapa
kali proposal bantuan diajukan ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag), tapi
belum pernah ada tanggapan.
“Impian kami nanti bisa bangun sampai
SMA, jadi anak-anak tidak perlu jauh-jauh sekolah,” ucapnya.
Kemenag Kota Tak Anggarkan Rehab
“Masalahnya dana untuk rehab atau RKB
(Ruang Kelas Baru, Red) di Kemenag Kota Banjarmasin sejak tahun 2010 sampai
sekarang tidak pernah ada anggarannya. Yang ada hanya di provinsi,” terangnya.
Itupun, lanjutnya, dananya juga terbatas
sehingga yang lebih mendesak yang diprioritaskan.
“Makanya kami juga berharap pemerintah
daerah itu memerhatikan keberadaan madrasah,” katanya.
Pada tahun 2011, ada 10 sekolah di bawah
Kemenag Kota Banjarmasin mulai Raudhatul Athfal (RA) sampai Madrasah Aliyah
(MA) yang mendapat bantuan, baik untuk rehab maupun pembangunan RKB. Tapi
jumlah dananya ia tak ingat persis. Sedangkan untuk tahun 2012, menurutnya
belum ada informasi berapa dana yang dialokasikan.
“Di Banjarmasin ada 147 buah madrasah,
mulai RA sampai Aliyah, terbanyak MI 61 buah. Yang kondisinya baik dan rusak
perbandingannya 50 persen,” ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar