Perbedaan adalah sunatullah. Dan jika disikapi secara bijak, perbedaan sejatinya adalah anugerah. Termasuk aliran-aliran yang berkembang dalam ajaran agama Islam. Ketika Allah menurunkan perbedaan ke muka bumi ini, tentu ada hikmah di baliknya.
"Munculnya berbagai aliran di tubuh Islam sudah terjadi paling kurang sejak zaman sahabat. Sejak Nabi tidak ada, maka penafsiran terhadap agama itu tidak lagi bisa disampaikan oleh Nabi saja. Kalau sebelumnya kan Nabi otoritasnya yang pegang, yang menafsirkan dia saja tidak ada yang lain. Nabi bukan menafsirkan sebenarnya, tapi otoritas itu sendiri. Nah, ketika Nabi sudah meninggal dunia, Al-Quran dan hadist kemudian ditafsir sehingga pengertiannya bisa berbeda-beda. Nah, itulah sebabnya sejak zaman para sahabat sampai sekarang terjadi berbagai kelompok dan aliran," tutur Dr Mujiburrahman MA.
Sesungguhnya, perbedaan ini adalah sesuatu yang normal dan terdapat di dalam semua ajaran agama. Tapi bukan berarti tidak ada prinsip-prinsip dasar yang membuat umat Islam tidak bisa bersatu. Misalnya, bahwa Al-Quran dan hadist adalah sumber hukum pertama, serta ada Rukun Iman dan Rukun Islam. Itulah yang membuat mereka sama sebagai orang Islam.
Tapi kemudian bagaimana hukum Islam itu diterjemahkan secara detil, itu yang berbeda-beda. Misalnya, dalam salat ada yang niatnya diucapkan ada yang tidak, dan detil-detil yang lainnya. Tapi kadang-kadang bisa perbedaan yang ada cukup prinsipil. Misalnya, Syiah beranggapan bahwa yang berhak memegang kekuasaan politik adalah keturunan Ali bin Abi Thalib. Tapi pandangan Sunni bahwa yang berhak adalah siapa saja yang dipilih oleh kaum muslimin.
"Nah, sekarang kalau kita berbicara di Indonesia, Islam baru masuk secara umum pada abad ke-13. Islam yang masuk ke sini berarti Islam yang sudah bergumul di dalam sejarah di Timur Tengah kurang lebih 6-7 abad. Itu bukan masa yang pendek. Karena itu, Islam yang masuk ke sini adalah Islam yang sudah beragam sebenarnya. Ada Islam pengaruh tasawuf yang besar karena pada abad ke-13 itu tasawuf memang sedang berkembang pesat, ada juga mungkin sedikit banyak pengaruh Syiah, dan pengaruh Sunni tentu saja," lanjutnya.
Sedangkan di Kalsel, Islam baru masuk pada abad ke-16 setelah Pangeran Suriansyah masuk Islam secara formal karena alasan politis. Tetapi bagaimana setelah abad ke-16 itu Pangeran Suriansyah mengislamkan masyarakat Banjar, informasinya belum banyak diketahui. Yang jelas, pada abad ke-18 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pulang dari Mekkah dan kemudian menyebarkan agama Islam. Kalau antara abad ke-16 dan ke-17 itu diasumsikan bahwa Islamnya masih formal-formal saja, maka islamisasi yang intensif baru terjadi pada abad ke-18.
Kemudian, Islam yang dibawa oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ini adalah Islam yang sudah berkembang di Timur Tengah sekitar 10 abad dengan beragam tradisi yang sangat kaya dengan adanya berbagai mahzab fikih, aliran ilmu tasawuf, dan berbagai aliran ilmu kalam. Namun, yang dominan pada saat itu memang aliran Sunni. Dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sendiri membawa pulang ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah di bidang akidah, kemudian mahzab Syafii di bidang fikih, serta di bidang tasawuf merupakan konvergensi antara tasawuf versi Al-Gazali yang dominan di dunia Sunni dengan tasawuf Ibnul Arobbi dengan istilahnya wahdatul wujud. Di kalangan para ulama dulu, khususnya pada abad ke-18, hal tersebut dianggap tidak bertentangan, yang satu justru saling melengkapi dengan yang lain. Nanti baru belakangan ada orang yang mempersoalkan bahwa dua hal ini berbeda.
Berikutnya, sebelum dan pada masa kemerdekaan pada awal abad ke-20, orang Islam di Indonesia dan termasuk di Kalsel tidak lagi belajar agama ke Arab Saudi, tapi mereka pindah ke Mesir karena saat itu Arab Saudi dikuasai oleh Wahabi yang tidak disukai. Di Mesir, terjadilah pertemuan dengan gagasan-gagasan progresif dan gerakan nasionalisme antikolonial dari Muhammad Abduh, muridnya Rasyid Ridho, serta pengaruh Jamaludin Al-Awani sebelumnya pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Jadi, pada saat itu bergabunglah semangat keagamaan dengan semangat kebangsaan untuk melawan penjajahan. Nah, dengan demikian ada juga interpretasi atau penafsiran ulang terhadap ajaran-ajaran agama yang selama ini berkembang di tanah air yang juga berasal dari Timut Tengah. Dari situlah kemudian muncul gerakan pembaruan bernama Muhammadiyah. Muhammadiyah masuk juga ke Kalsel kira-kira di awal abad ke-20. Pada saat yang sama, kelompok kalangan tradisionalis juga mengkonsolidasi diri dengan cara meniru kalangan pembaruan untuk mengorganisir diri dan kemudian munculah gerakan Nahdatul Ulama sebagai reaksi terhadap kalangan reformis. Keduanya ada di Kalsel dan jangan dikira tidak pernah ada konflik, pendapat itu sangat salah.
Selanjutnya, setelah jatuhnya orde baru aliran-aliran yang belum pernah ada sebelumnya bermunculan, seperti HTI dan Islam Jamaah yang sudah ada sebelumnya tapi sempat dilarang dan kemudian berubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Pada masa orde baru, kelompok-kelompok Islam yang beraliran ideologi politik dibungkam. Nah, setelah orde baru jatuh, kelompok-kelompok itu kembali muncul dan mereka juga masuk ke Kalsel, terutama di kampus-kampus.
"Kalau berapa banyak aliran agama yang ada dalam Islam, saya tidak bisa menghitung. Tapi kalau yang besar itu seperti Syiah, dan Syiah itu juga masih bermacam-macam lagi. Begitu juga Sunni. Pada hukum Islam ada Mahzab. Tasawuf ada yang versi Al-Gazali dan kawan-kawan yang lebih mendekatkan pada etika, ada juga tasawuf yang diilhami oleh Ibnul Arobbi yang mencoba menjabarkan pengalaman rohaniah secara metafisika. Tasawuf itu kemudian masuk lagi kepada tarikat-tarikat atau metode ibadah dan pembersihan hati untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Di Indonesia jumlahnya ada puluhan, termasuk yang sempalan. Kalau di dunia Islam sendiri kira-kira ada ratusa tarikat," ujarnya.
Pertanyaannya sekarang, mengapa perbedaan ini dibiarkan saja oleh Tuhan? Karena memang Tuhan menginginkan manusia berbeda-beda. Menghapuskan perbedaan sama saja dengan melawan kehendak Tuhan. Dan perbedaan juga diciptakan sebagai ujian bagi manusia untuk melihat siapa di antara umat-Nya yang berbuat baik.
Sedangkan soal aliran yang menyimpang dari pakem Islam, Pembantu Dekan I Fakultas Ushuludin IAIN Antasari Banjarmasin yang kerap menulis di berbagai media cetak dan sering menjadi pembicara di berbagai seminar baik di dalam maupun luar negeri ini sendiri memiliki ungkapan yang sangat menarik soal perbedaan di dalam aliran-aliran ini. "Aliran sempalan yang aneh-aneh itu adalah peringatan bagi kita. Ibaratnya kalau saya sakit kepala, itu peringatan ada yang tidak beres di tubuh saya. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan orang lain, tapi introspeksi dirilah dulu. Pengendalian perlu, tapi bukan berarti kita harus memaksa orang lain sampai melakukan kekerasan, itu yang tidak benar. MUI mengeluarkan fatwa juga tidak masalah selama itu tidak mengarah atau mendorong orang melakukan tindakan kekerasan. Tapi yang lebih penting sebenarnya yang harus dijawab adalah kenapa aliran itu bisa muncul?" ucapnya.
Kesimpulannya, ketika seseorang merasa agamanya yang paling benar, bukan berarti ia tidak mengakui adanya kebaikan di agama orang lain. Kemudian, persoalan surga neraka adalah urusan Tuhan. Urusan manusia di dunia adalah mengelola perbedaan itu secara damai dan berkeadilan, baik adil dari segi eksistensi maupun kesejahteraan.
* * *
Barangkali, selama ini Kalsel termasuk salah satu daerah yang jarang diwarnai konflik. Namun, sebuah konflik berbau agama yang cukup serius antara pengikut Muhammadiyah dengan NU ternyata pernah tercatat dalam sejarah Bumi Lambung Mangkurat di era tahun 1980-an, khususnya di Alabio. Saking tajamnya, sampai-sampai di Alabio awam dijumpai mesjid bercap NU.
Bagaimana kemudian terjadi konsolidasi dan terjadi upaya untuk saling menghormati, ada beberapa faktor penyebabnya. Dr Mujiburrahman MA mengungkapkan bahwa pengerasan perbedaan aliran agama itu dimanapun di dunia ini pertama-tama adalah apabila dia terkait dengan perebutan kekuasan alias politik. Pada tahun 1950-an, orang-orang Muhammadiyah rata-rata menjadi pendukung Masyumi, sedangkan NU menjadi partai sendiri. Hal ini memperkeras hubungan antara Muhammadiyah dan NU karena politik itu memang selalu memberikan ketegangan ketika orang-orang bertarung memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan masing-masing. Nah, pada masa orde baru, depolitisi Islam dilakukan dimana orang tidak boleh mengatasnamakan agama sehingga ketegangan menyurut.
Yang kedua, faktornya adalah pendidikan. Masyarakat yang semakin terpelajar, semakin banyak membaca buku, serta mau mempelajari aliran-aliran lain yang sama-sama ada dalil dan argumennya membuat orang bisa saling menghormati.
"Tapi saya tidak mengatakan bahwa depolitisasi itu positif, tapi dari sudut pandang politik tadi itu positif. Harus dicatat itu," selanya seraya tersenyum.
Nah, apa sebenarnya yang bisa menjadi pemicu di balik konflik antar aliran atau komponen dalam Islam ini?
Ia menilai bahwa doktrin tidak memiliki pengaruh yang terlalu besar. Menurutnya, konflik muncul biasanya bukan karena beda pendapat, tapi beda pendapatan. Jadi, yang terpenting adalah menciptakan suatu masyarakat dimana pemerataan keadilan itu bisa terwujud. Orang-orang bisa saling respek kalau ada keadilan dan pemerataan.
Kedua, baru kemudian ditopang oleh kultur, termasuk ajaran, sistem nilai untuk saling menghormati dan mengenal satu sama lain, serta tidak saling curiga yang harus ditumbuhkan melalui pendidikan. Para ulama juga terlibat di situ sebenarnya.
"Jadi, ini biasanya ulama-ulama mempertajam perbedaan antara lain karena kepentingan pendapatan. Saya tidak mengatakan selalu, tapi kadang-kadang. Ada beberapa kasus perbedaan tafsir di Kalsel, sama-sama kalangan tradisionalis sebenarnya, bukan NU bukan Muhammadiyah, saling mengklaim otoritas karena perebutan pendapatan," ungkapnya.
Satu hal yang menarik diceritakan, tentang hasil penelitiannya dan kawan-kawan di Loksado baru-baru ini. Secara demografis, Loksado cukup mengkhawatirkan di sana terdapat kelompok-kelompok keagamaan Kristen, Kaharingan atau Balian, dan Islam. Tempat tinggal mereka berdekatan tapi terpisah, ada semacam gap secara tidak resmi. Ada gereja, mesjid, dan balai tempat ibadah umat Kaharingan.
"Namun, dari hasil pengamatan dan wawancara, sedikit banyak memang ada suasana tidak sehat, tapi tidak pernah terjadi konflik yang serius. Maka, kami mencoba melihat dari sisi lain, yaitu bagaimana distribusi sumber-sumber ekonomi. Ternyata menarik. Pengelola pariwisata di sana kan rata-rata pendatang, tapi operasional di lapangan itu masyarakat setempat. Misalnya ada lanting, pengelolannya orang sana. Dan itu terbagi-bagi lagi, yang ngojek ke air terjun di Haratai itu orang-orang Haratai. Lalu pedagang campuran, kebanyakan orang Banjar tapi orang sana juga sudah mulai banyak yang ikut. Lalu ada yang menyadap karet, dan sebagainya. Akhirnya, kesenjangan antara yang kaya dan miskin tidak terlalu mencolok, kehidupan itu relatif seimbang. Penafsiran kami ini adalah salah satu penyebab harmoni masih bisa dipertahankan. Nah, hal ini merupakan satu pemikiran yang perlu direnungkan jika bicara soal konflik. Jangan lupa kerusuhan Mei 1997 orang-orang menjarah barang-barang di Mitra Plaza. Ngapain orang mau rela terbakar bahkan ada yang mati kalau mereka bisa membeli? Ini kan persoalan agama juga. Sekali lagi, pada ulama dan pemimpin harus memperhatikan betul masalah kesenjangan ini," paparnya.
* * *
Di samping aliran-aliran yang masih di jalur ortodoks, artinya jalur yang berdasarkan agama itu sendiri dan sumber-sumber agama yang diterima, ada kelompok-kelompok yang disebut dengan sempalan. Kelompok-kelompok sempalan ini sejak abad ke-19 sudah ada di Kalsel. Karena memang di Kalsel ini dulunya agama Hindu berkembang dengan baik, mungkin juga sebelumnya Budha.
Dr Mujiburrahman MA menuturkan bahwa kepercayaan-kepercayaan semacam itu membuat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada abad ke-18 menulis menulis kitab tauhi berjudul Tahfaturraghibin Qibayani Imanil Mu’minin Wal Murtadin dalam bahasa melayu yang menurutnya sangat orisinil dalam konteksnya. Isinya terlihat bahwa beliau sebagai ulama mencoba merespon kepercayaan-kepercayaan dan upacara keagaamaan yang berkembang di masyarakat yang berasal dari tradisi Hindu atau primitivisme.
Kemudian lagi, di dalam perang Banjar ada tokoh nabi palsu bernama Aling pada abad ke-19. Dia mencampurkan berbagai macam aliran dan mendeklarasikan diri bahwa dia mendapat wangsit dimana nanti akan ada seorang pangeran yang mengambil alih kekuasaan dan mengalahkan Belanda. Dia sendiri memiliki banyak pengikut waktu itu.
"Kami di Ushuludin mengadakan banyak penelitian tentang gerakan-gerakan sempalan. Ternyata cukup banyak juga di Kalsel, tapi tersembunyi. Biasanya mereka kebanyakan pengajian tasawuf, tapi tasawuf dalam arti metafisika. Artinya, tasawuf dalam arti pembicaraan-pembicaraan masalah ketuhanan dengan cara filosofis. Padahal, mereka tidak mengerti filsafat. Intinya adalah bahwa kalau orang masuk aliran itu, mereka akan masuk surga atau sudah sampai mengenal Tuhan ke dalam-dalamnya, seringkali meninggalkan syariat, tidak mau salat lagi dan sebagainya, dan kadang-kadang pengajiannya malam.
Di Kalsel, semua aliran nampak bisa berkembang, namun khusus yang sempalan tidak begitu pesat karena masyarakat Kalsel sendiri kebanyakan sudah kadung menganut ajaran Islam yang ortodoks atau yang masih sesuai dengan ajaran yang benar.
"Yang sempalan itu tidak banyak, tapi ada dan terpencar. Ada kawan kami yang melakukan penelitian itu dan keberadannya dimana-mana, seperti di Tanjung Kelua, Amuntai, pinggiran Martapura ada juga. Di perkotaan ada juga, tapi jarang dan pengajiannya umumnya tengah malam. Kawan saya yang meneliti itu sampai harus jadi anggotanya. Dia mengajarkan nama Tuhan itu ada 100, kalau tahu yang 100 itu maka bisa masuk surga. Saya tidak tahu persis apa motivasi pribadinya, kalau kita lihat bisa ekonomi tapi mungkin juga bahwa mereka merasa bahwa yang mereka ajarkan itu adalah suatu kebenaran. Ilmu-ilmu seperti itu kan pasti ada sesuatu yang misterius sehingga membuat penasaran dan mereka merasa istimewa mendapatkan ilmu itu," ungkapnya.
Pengikutnya sendiri kebanyakan memang masyarakat kelas bawah, tapi tidak mesti juga karena yang ikut bisa karena alasan ekonomi, bisa juga karena kehampaan spiritual akibat krisis kepercayaan kepada tokoh agama. Sedangkan perekrutan dilakukan dari mulut ke mulut saja. Yang menarik, pengembang aliran sempalan ini rata-rata bukan orang yang ahli agama dan profesinya pun bermacam-macam. Mereka hanya membaca-baca saja dan cukup piawai meyakinkan orang. Ada juga yang dikenal sebagai guru agama, tapi dia membuka "kelas khusus" untuk orang-orang tertentu yang menjadi pengikut ajarannya.
* * *
Pertanyaannya sekarang, mengapa aliran-aliran sempalan ini bisa menjamur?
Menurut pendapat Dr Mujiburrahman MA, kalau hanya memberikan fatwa ini salah ini sesat, itu gampang. Tetapi yang terpenting adalah bukan menghakimi, tapi memahami mengapa aliran seperti ini selalu saja bisa mendapatkan pengikut. Nah, di sini diperlukan peran ilmu sosial. Gerakan sempalan dan gerakan radikal pertama-tama harus dipahami sebagai sebuah reaksi dari suatu penyakit bahwa ada yang tidak beres di masyarakat. Di situ, maka aliran besar atau kelompok yang dominan harus melakukan evaluasi diri, ada yang salahkah dengan pengembangan ajaran agama selama ini? Misalnya, dari segi doktrin yang diajarkan, apakah doktrin itu sudah menyentuh kebutuhan-kebutuhan masyarakat?
"Kami mengadakan penelitian tentang pengajian-pengajian tauhid sifat 20, itu bagus. Tapi karena sifat 20 itu argumennya sangat filosofis, kadang-kadang susah dipahami. Jangankan jamaahnya, gurunya juga kadang-kadang tidak paham. Kedua, penghayatan terhadap kehadiran Tuhan melalui pengajaran ilmu tauhid kemudian agak sulit dari sifat 20. Misalnya, contoh saja sifat 20 itu tidak mengajarkan Tuhan itu maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun. Yang ada hanya wujud (ada), qidam (tidak berkeluarga), baqa (tidak berakhir). Itu kan sangat filosofis. Karena itu sejumlah senior di sini yang sudah almarhum sebagian menganjurkan juga agar jangan hanya sifat 20, tapi dipakai juga asmaul husna sebagai materi pendidikan akidah," terangnya.
Yang kedua, di samping doktrin, kedudukan dan peran para ulama juga perlu dievaluasi. Menurut para informan yang diwawancarai, kenapa mereka menyukai guru-guru sempalan ini, alasan mereka adalah guru-guru ini lebih mudah menerima siapa pun yang datang, rendah hati, dan melayani dengan baik.
"Konsep melayani ini penting sekali. Saya sangat salut dengan istilah itu dalam dunia Kristen. Seorang pendeta dalam dunia Kristen adalah seorang pelayan. Konsep melayani itu sebenarnya konsep Islam juga. Kata Nabi, aku tidak minta upah, upahku dari Tuhan. Bukan saya melarang orang menerima amplop, itu wajar sekali. Ulama juga perlu hidup, makan, minum, dan sebagainya. Tetapi semangatnya harus lebih tinggi dari itu karena pelayanan itu tidak ternilai sebenarnya dengan uang. Ini juga masalah yang kami temukan di lapangan. Artinya, saya tidak mengada-ada, tapi berdasarkan banyak riset," tukasnya.
Masalah lain, sekarang ini juga muncul pengajian-pengajian yang sifatnya terkesan berdasarkan kelas sosial. Misalnya, ada pengajian untuk kelas eksekutif dengan biaya sekian ratus ribu, latihan salat khusyuk sekian ratus ribu, dan sebagainya. Akibatnya, ada kesan bahwa orang yang beragama adalah orang yang berduit, dan agama hanya memperhatikan orang yang berduit. Termasuk soal pendidikan. Lembaga pendidikan Islam yang bagus di daerah ini identik dengan mahal dan untuk kalangan menengah ke atas.
"Nah, bagaimana caranya kita mengakomodasi yang lemah, pertama ada komitmen. Kedua, memang harus ada kesadaran di masyarakat kita bahwa keadilan sosial adalah bagian dari agama. Ini yang menurut saya cukup serius. Orang kita kalau punya duit banyak naik haji sering-sering, umrah setiap tahun, anak kecilnya dibawa semua, kalau sudah sering naik haji dan umrah kawin lagi. Kalau memikirkan keadilan, pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan itu masih minim. Pengajaran agama juga masih belum mengarah ke sana. Saya tidak mengatakan tidak ada sama sekali, ada juga semangat untuk meningkatkan potensi zakat. Tapi ya itu tadi yang penting komitmen dan itu tidak mudah," tandasnya.
"Munculnya berbagai aliran di tubuh Islam sudah terjadi paling kurang sejak zaman sahabat. Sejak Nabi tidak ada, maka penafsiran terhadap agama itu tidak lagi bisa disampaikan oleh Nabi saja. Kalau sebelumnya kan Nabi otoritasnya yang pegang, yang menafsirkan dia saja tidak ada yang lain. Nabi bukan menafsirkan sebenarnya, tapi otoritas itu sendiri. Nah, ketika Nabi sudah meninggal dunia, Al-Quran dan hadist kemudian ditafsir sehingga pengertiannya bisa berbeda-beda. Nah, itulah sebabnya sejak zaman para sahabat sampai sekarang terjadi berbagai kelompok dan aliran," tutur Dr Mujiburrahman MA.
Sesungguhnya, perbedaan ini adalah sesuatu yang normal dan terdapat di dalam semua ajaran agama. Tapi bukan berarti tidak ada prinsip-prinsip dasar yang membuat umat Islam tidak bisa bersatu. Misalnya, bahwa Al-Quran dan hadist adalah sumber hukum pertama, serta ada Rukun Iman dan Rukun Islam. Itulah yang membuat mereka sama sebagai orang Islam.
Tapi kemudian bagaimana hukum Islam itu diterjemahkan secara detil, itu yang berbeda-beda. Misalnya, dalam salat ada yang niatnya diucapkan ada yang tidak, dan detil-detil yang lainnya. Tapi kadang-kadang bisa perbedaan yang ada cukup prinsipil. Misalnya, Syiah beranggapan bahwa yang berhak memegang kekuasaan politik adalah keturunan Ali bin Abi Thalib. Tapi pandangan Sunni bahwa yang berhak adalah siapa saja yang dipilih oleh kaum muslimin.
"Nah, sekarang kalau kita berbicara di Indonesia, Islam baru masuk secara umum pada abad ke-13. Islam yang masuk ke sini berarti Islam yang sudah bergumul di dalam sejarah di Timur Tengah kurang lebih 6-7 abad. Itu bukan masa yang pendek. Karena itu, Islam yang masuk ke sini adalah Islam yang sudah beragam sebenarnya. Ada Islam pengaruh tasawuf yang besar karena pada abad ke-13 itu tasawuf memang sedang berkembang pesat, ada juga mungkin sedikit banyak pengaruh Syiah, dan pengaruh Sunni tentu saja," lanjutnya.
Sedangkan di Kalsel, Islam baru masuk pada abad ke-16 setelah Pangeran Suriansyah masuk Islam secara formal karena alasan politis. Tetapi bagaimana setelah abad ke-16 itu Pangeran Suriansyah mengislamkan masyarakat Banjar, informasinya belum banyak diketahui. Yang jelas, pada abad ke-18 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pulang dari Mekkah dan kemudian menyebarkan agama Islam. Kalau antara abad ke-16 dan ke-17 itu diasumsikan bahwa Islamnya masih formal-formal saja, maka islamisasi yang intensif baru terjadi pada abad ke-18.
Kemudian, Islam yang dibawa oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ini adalah Islam yang sudah berkembang di Timur Tengah sekitar 10 abad dengan beragam tradisi yang sangat kaya dengan adanya berbagai mahzab fikih, aliran ilmu tasawuf, dan berbagai aliran ilmu kalam. Namun, yang dominan pada saat itu memang aliran Sunni. Dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sendiri membawa pulang ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah di bidang akidah, kemudian mahzab Syafii di bidang fikih, serta di bidang tasawuf merupakan konvergensi antara tasawuf versi Al-Gazali yang dominan di dunia Sunni dengan tasawuf Ibnul Arobbi dengan istilahnya wahdatul wujud. Di kalangan para ulama dulu, khususnya pada abad ke-18, hal tersebut dianggap tidak bertentangan, yang satu justru saling melengkapi dengan yang lain. Nanti baru belakangan ada orang yang mempersoalkan bahwa dua hal ini berbeda.
Berikutnya, sebelum dan pada masa kemerdekaan pada awal abad ke-20, orang Islam di Indonesia dan termasuk di Kalsel tidak lagi belajar agama ke Arab Saudi, tapi mereka pindah ke Mesir karena saat itu Arab Saudi dikuasai oleh Wahabi yang tidak disukai. Di Mesir, terjadilah pertemuan dengan gagasan-gagasan progresif dan gerakan nasionalisme antikolonial dari Muhammad Abduh, muridnya Rasyid Ridho, serta pengaruh Jamaludin Al-Awani sebelumnya pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Jadi, pada saat itu bergabunglah semangat keagamaan dengan semangat kebangsaan untuk melawan penjajahan. Nah, dengan demikian ada juga interpretasi atau penafsiran ulang terhadap ajaran-ajaran agama yang selama ini berkembang di tanah air yang juga berasal dari Timut Tengah. Dari situlah kemudian muncul gerakan pembaruan bernama Muhammadiyah. Muhammadiyah masuk juga ke Kalsel kira-kira di awal abad ke-20. Pada saat yang sama, kelompok kalangan tradisionalis juga mengkonsolidasi diri dengan cara meniru kalangan pembaruan untuk mengorganisir diri dan kemudian munculah gerakan Nahdatul Ulama sebagai reaksi terhadap kalangan reformis. Keduanya ada di Kalsel dan jangan dikira tidak pernah ada konflik, pendapat itu sangat salah.
Selanjutnya, setelah jatuhnya orde baru aliran-aliran yang belum pernah ada sebelumnya bermunculan, seperti HTI dan Islam Jamaah yang sudah ada sebelumnya tapi sempat dilarang dan kemudian berubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Pada masa orde baru, kelompok-kelompok Islam yang beraliran ideologi politik dibungkam. Nah, setelah orde baru jatuh, kelompok-kelompok itu kembali muncul dan mereka juga masuk ke Kalsel, terutama di kampus-kampus.
"Kalau berapa banyak aliran agama yang ada dalam Islam, saya tidak bisa menghitung. Tapi kalau yang besar itu seperti Syiah, dan Syiah itu juga masih bermacam-macam lagi. Begitu juga Sunni. Pada hukum Islam ada Mahzab. Tasawuf ada yang versi Al-Gazali dan kawan-kawan yang lebih mendekatkan pada etika, ada juga tasawuf yang diilhami oleh Ibnul Arobbi yang mencoba menjabarkan pengalaman rohaniah secara metafisika. Tasawuf itu kemudian masuk lagi kepada tarikat-tarikat atau metode ibadah dan pembersihan hati untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Di Indonesia jumlahnya ada puluhan, termasuk yang sempalan. Kalau di dunia Islam sendiri kira-kira ada ratusa tarikat," ujarnya.
Pertanyaannya sekarang, mengapa perbedaan ini dibiarkan saja oleh Tuhan? Karena memang Tuhan menginginkan manusia berbeda-beda. Menghapuskan perbedaan sama saja dengan melawan kehendak Tuhan. Dan perbedaan juga diciptakan sebagai ujian bagi manusia untuk melihat siapa di antara umat-Nya yang berbuat baik.
Sedangkan soal aliran yang menyimpang dari pakem Islam, Pembantu Dekan I Fakultas Ushuludin IAIN Antasari Banjarmasin yang kerap menulis di berbagai media cetak dan sering menjadi pembicara di berbagai seminar baik di dalam maupun luar negeri ini sendiri memiliki ungkapan yang sangat menarik soal perbedaan di dalam aliran-aliran ini. "Aliran sempalan yang aneh-aneh itu adalah peringatan bagi kita. Ibaratnya kalau saya sakit kepala, itu peringatan ada yang tidak beres di tubuh saya. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan orang lain, tapi introspeksi dirilah dulu. Pengendalian perlu, tapi bukan berarti kita harus memaksa orang lain sampai melakukan kekerasan, itu yang tidak benar. MUI mengeluarkan fatwa juga tidak masalah selama itu tidak mengarah atau mendorong orang melakukan tindakan kekerasan. Tapi yang lebih penting sebenarnya yang harus dijawab adalah kenapa aliran itu bisa muncul?" ucapnya.
Kesimpulannya, ketika seseorang merasa agamanya yang paling benar, bukan berarti ia tidak mengakui adanya kebaikan di agama orang lain. Kemudian, persoalan surga neraka adalah urusan Tuhan. Urusan manusia di dunia adalah mengelola perbedaan itu secara damai dan berkeadilan, baik adil dari segi eksistensi maupun kesejahteraan.
* * *
Barangkali, selama ini Kalsel termasuk salah satu daerah yang jarang diwarnai konflik. Namun, sebuah konflik berbau agama yang cukup serius antara pengikut Muhammadiyah dengan NU ternyata pernah tercatat dalam sejarah Bumi Lambung Mangkurat di era tahun 1980-an, khususnya di Alabio. Saking tajamnya, sampai-sampai di Alabio awam dijumpai mesjid bercap NU.
Bagaimana kemudian terjadi konsolidasi dan terjadi upaya untuk saling menghormati, ada beberapa faktor penyebabnya. Dr Mujiburrahman MA mengungkapkan bahwa pengerasan perbedaan aliran agama itu dimanapun di dunia ini pertama-tama adalah apabila dia terkait dengan perebutan kekuasan alias politik. Pada tahun 1950-an, orang-orang Muhammadiyah rata-rata menjadi pendukung Masyumi, sedangkan NU menjadi partai sendiri. Hal ini memperkeras hubungan antara Muhammadiyah dan NU karena politik itu memang selalu memberikan ketegangan ketika orang-orang bertarung memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan masing-masing. Nah, pada masa orde baru, depolitisi Islam dilakukan dimana orang tidak boleh mengatasnamakan agama sehingga ketegangan menyurut.
Yang kedua, faktornya adalah pendidikan. Masyarakat yang semakin terpelajar, semakin banyak membaca buku, serta mau mempelajari aliran-aliran lain yang sama-sama ada dalil dan argumennya membuat orang bisa saling menghormati.
"Tapi saya tidak mengatakan bahwa depolitisasi itu positif, tapi dari sudut pandang politik tadi itu positif. Harus dicatat itu," selanya seraya tersenyum.
Nah, apa sebenarnya yang bisa menjadi pemicu di balik konflik antar aliran atau komponen dalam Islam ini?
Ia menilai bahwa doktrin tidak memiliki pengaruh yang terlalu besar. Menurutnya, konflik muncul biasanya bukan karena beda pendapat, tapi beda pendapatan. Jadi, yang terpenting adalah menciptakan suatu masyarakat dimana pemerataan keadilan itu bisa terwujud. Orang-orang bisa saling respek kalau ada keadilan dan pemerataan.
Kedua, baru kemudian ditopang oleh kultur, termasuk ajaran, sistem nilai untuk saling menghormati dan mengenal satu sama lain, serta tidak saling curiga yang harus ditumbuhkan melalui pendidikan. Para ulama juga terlibat di situ sebenarnya.
"Jadi, ini biasanya ulama-ulama mempertajam perbedaan antara lain karena kepentingan pendapatan. Saya tidak mengatakan selalu, tapi kadang-kadang. Ada beberapa kasus perbedaan tafsir di Kalsel, sama-sama kalangan tradisionalis sebenarnya, bukan NU bukan Muhammadiyah, saling mengklaim otoritas karena perebutan pendapatan," ungkapnya.
Satu hal yang menarik diceritakan, tentang hasil penelitiannya dan kawan-kawan di Loksado baru-baru ini. Secara demografis, Loksado cukup mengkhawatirkan di sana terdapat kelompok-kelompok keagamaan Kristen, Kaharingan atau Balian, dan Islam. Tempat tinggal mereka berdekatan tapi terpisah, ada semacam gap secara tidak resmi. Ada gereja, mesjid, dan balai tempat ibadah umat Kaharingan.
"Namun, dari hasil pengamatan dan wawancara, sedikit banyak memang ada suasana tidak sehat, tapi tidak pernah terjadi konflik yang serius. Maka, kami mencoba melihat dari sisi lain, yaitu bagaimana distribusi sumber-sumber ekonomi. Ternyata menarik. Pengelola pariwisata di sana kan rata-rata pendatang, tapi operasional di lapangan itu masyarakat setempat. Misalnya ada lanting, pengelolannya orang sana. Dan itu terbagi-bagi lagi, yang ngojek ke air terjun di Haratai itu orang-orang Haratai. Lalu pedagang campuran, kebanyakan orang Banjar tapi orang sana juga sudah mulai banyak yang ikut. Lalu ada yang menyadap karet, dan sebagainya. Akhirnya, kesenjangan antara yang kaya dan miskin tidak terlalu mencolok, kehidupan itu relatif seimbang. Penafsiran kami ini adalah salah satu penyebab harmoni masih bisa dipertahankan. Nah, hal ini merupakan satu pemikiran yang perlu direnungkan jika bicara soal konflik. Jangan lupa kerusuhan Mei 1997 orang-orang menjarah barang-barang di Mitra Plaza. Ngapain orang mau rela terbakar bahkan ada yang mati kalau mereka bisa membeli? Ini kan persoalan agama juga. Sekali lagi, pada ulama dan pemimpin harus memperhatikan betul masalah kesenjangan ini," paparnya.
* * *
Di samping aliran-aliran yang masih di jalur ortodoks, artinya jalur yang berdasarkan agama itu sendiri dan sumber-sumber agama yang diterima, ada kelompok-kelompok yang disebut dengan sempalan. Kelompok-kelompok sempalan ini sejak abad ke-19 sudah ada di Kalsel. Karena memang di Kalsel ini dulunya agama Hindu berkembang dengan baik, mungkin juga sebelumnya Budha.
Dr Mujiburrahman MA menuturkan bahwa kepercayaan-kepercayaan semacam itu membuat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada abad ke-18 menulis menulis kitab tauhi berjudul Tahfaturraghibin Qibayani Imanil Mu’minin Wal Murtadin dalam bahasa melayu yang menurutnya sangat orisinil dalam konteksnya. Isinya terlihat bahwa beliau sebagai ulama mencoba merespon kepercayaan-kepercayaan dan upacara keagaamaan yang berkembang di masyarakat yang berasal dari tradisi Hindu atau primitivisme.
Kemudian lagi, di dalam perang Banjar ada tokoh nabi palsu bernama Aling pada abad ke-19. Dia mencampurkan berbagai macam aliran dan mendeklarasikan diri bahwa dia mendapat wangsit dimana nanti akan ada seorang pangeran yang mengambil alih kekuasaan dan mengalahkan Belanda. Dia sendiri memiliki banyak pengikut waktu itu.
"Kami di Ushuludin mengadakan banyak penelitian tentang gerakan-gerakan sempalan. Ternyata cukup banyak juga di Kalsel, tapi tersembunyi. Biasanya mereka kebanyakan pengajian tasawuf, tapi tasawuf dalam arti metafisika. Artinya, tasawuf dalam arti pembicaraan-pembicaraan masalah ketuhanan dengan cara filosofis. Padahal, mereka tidak mengerti filsafat. Intinya adalah bahwa kalau orang masuk aliran itu, mereka akan masuk surga atau sudah sampai mengenal Tuhan ke dalam-dalamnya, seringkali meninggalkan syariat, tidak mau salat lagi dan sebagainya, dan kadang-kadang pengajiannya malam.
Di Kalsel, semua aliran nampak bisa berkembang, namun khusus yang sempalan tidak begitu pesat karena masyarakat Kalsel sendiri kebanyakan sudah kadung menganut ajaran Islam yang ortodoks atau yang masih sesuai dengan ajaran yang benar.
"Yang sempalan itu tidak banyak, tapi ada dan terpencar. Ada kawan kami yang melakukan penelitian itu dan keberadannya dimana-mana, seperti di Tanjung Kelua, Amuntai, pinggiran Martapura ada juga. Di perkotaan ada juga, tapi jarang dan pengajiannya umumnya tengah malam. Kawan saya yang meneliti itu sampai harus jadi anggotanya. Dia mengajarkan nama Tuhan itu ada 100, kalau tahu yang 100 itu maka bisa masuk surga. Saya tidak tahu persis apa motivasi pribadinya, kalau kita lihat bisa ekonomi tapi mungkin juga bahwa mereka merasa bahwa yang mereka ajarkan itu adalah suatu kebenaran. Ilmu-ilmu seperti itu kan pasti ada sesuatu yang misterius sehingga membuat penasaran dan mereka merasa istimewa mendapatkan ilmu itu," ungkapnya.
Pengikutnya sendiri kebanyakan memang masyarakat kelas bawah, tapi tidak mesti juga karena yang ikut bisa karena alasan ekonomi, bisa juga karena kehampaan spiritual akibat krisis kepercayaan kepada tokoh agama. Sedangkan perekrutan dilakukan dari mulut ke mulut saja. Yang menarik, pengembang aliran sempalan ini rata-rata bukan orang yang ahli agama dan profesinya pun bermacam-macam. Mereka hanya membaca-baca saja dan cukup piawai meyakinkan orang. Ada juga yang dikenal sebagai guru agama, tapi dia membuka "kelas khusus" untuk orang-orang tertentu yang menjadi pengikut ajarannya.
* * *
Pertanyaannya sekarang, mengapa aliran-aliran sempalan ini bisa menjamur?
Menurut pendapat Dr Mujiburrahman MA, kalau hanya memberikan fatwa ini salah ini sesat, itu gampang. Tetapi yang terpenting adalah bukan menghakimi, tapi memahami mengapa aliran seperti ini selalu saja bisa mendapatkan pengikut. Nah, di sini diperlukan peran ilmu sosial. Gerakan sempalan dan gerakan radikal pertama-tama harus dipahami sebagai sebuah reaksi dari suatu penyakit bahwa ada yang tidak beres di masyarakat. Di situ, maka aliran besar atau kelompok yang dominan harus melakukan evaluasi diri, ada yang salahkah dengan pengembangan ajaran agama selama ini? Misalnya, dari segi doktrin yang diajarkan, apakah doktrin itu sudah menyentuh kebutuhan-kebutuhan masyarakat?
"Kami mengadakan penelitian tentang pengajian-pengajian tauhid sifat 20, itu bagus. Tapi karena sifat 20 itu argumennya sangat filosofis, kadang-kadang susah dipahami. Jangankan jamaahnya, gurunya juga kadang-kadang tidak paham. Kedua, penghayatan terhadap kehadiran Tuhan melalui pengajaran ilmu tauhid kemudian agak sulit dari sifat 20. Misalnya, contoh saja sifat 20 itu tidak mengajarkan Tuhan itu maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun. Yang ada hanya wujud (ada), qidam (tidak berkeluarga), baqa (tidak berakhir). Itu kan sangat filosofis. Karena itu sejumlah senior di sini yang sudah almarhum sebagian menganjurkan juga agar jangan hanya sifat 20, tapi dipakai juga asmaul husna sebagai materi pendidikan akidah," terangnya.
Yang kedua, di samping doktrin, kedudukan dan peran para ulama juga perlu dievaluasi. Menurut para informan yang diwawancarai, kenapa mereka menyukai guru-guru sempalan ini, alasan mereka adalah guru-guru ini lebih mudah menerima siapa pun yang datang, rendah hati, dan melayani dengan baik.
"Konsep melayani ini penting sekali. Saya sangat salut dengan istilah itu dalam dunia Kristen. Seorang pendeta dalam dunia Kristen adalah seorang pelayan. Konsep melayani itu sebenarnya konsep Islam juga. Kata Nabi, aku tidak minta upah, upahku dari Tuhan. Bukan saya melarang orang menerima amplop, itu wajar sekali. Ulama juga perlu hidup, makan, minum, dan sebagainya. Tetapi semangatnya harus lebih tinggi dari itu karena pelayanan itu tidak ternilai sebenarnya dengan uang. Ini juga masalah yang kami temukan di lapangan. Artinya, saya tidak mengada-ada, tapi berdasarkan banyak riset," tukasnya.
Masalah lain, sekarang ini juga muncul pengajian-pengajian yang sifatnya terkesan berdasarkan kelas sosial. Misalnya, ada pengajian untuk kelas eksekutif dengan biaya sekian ratus ribu, latihan salat khusyuk sekian ratus ribu, dan sebagainya. Akibatnya, ada kesan bahwa orang yang beragama adalah orang yang berduit, dan agama hanya memperhatikan orang yang berduit. Termasuk soal pendidikan. Lembaga pendidikan Islam yang bagus di daerah ini identik dengan mahal dan untuk kalangan menengah ke atas.
"Nah, bagaimana caranya kita mengakomodasi yang lemah, pertama ada komitmen. Kedua, memang harus ada kesadaran di masyarakat kita bahwa keadilan sosial adalah bagian dari agama. Ini yang menurut saya cukup serius. Orang kita kalau punya duit banyak naik haji sering-sering, umrah setiap tahun, anak kecilnya dibawa semua, kalau sudah sering naik haji dan umrah kawin lagi. Kalau memikirkan keadilan, pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan itu masih minim. Pengajaran agama juga masih belum mengarah ke sana. Saya tidak mengatakan tidak ada sama sekali, ada juga semangat untuk meningkatkan potensi zakat. Tapi ya itu tadi yang penting komitmen dan itu tidak mudah," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar