A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Jumat, 08 Oktober 2010

Menengok Pengelolaan Sampah di TPA Basirih (1)

Simpan Potensi Ekonomi Rp 4 M

Sampah telah menjadi persoalan nasional sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu, bahkan mampu memberikan manfaat secara ekonomi. Dengan terbitnya UU no18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, maka paradigma tempat pembuangan akhir (TPA) pun harus berubah menjadi tempat pengolahan akhir.

NAZAT FITRIAH, Banjarmasin

“Sampah yang masuk dipilah dan diolah menjadi kompos atau bahkan menjadi energi terbarukan seperti listrik dan energi alternatif seperti bioetanol, spiritus, sampai gas metan. Di samping itu, untuk sampah plastik dan kertas juga bisa digunakan kembali dengan cara didaur ulang. Sedangkan kalau sampah yang tidak bisa diolah lagi baru dibuang. Nah, itulah yang dimaksud sebagai tempat pengolahan akhir dimana sampah bisa mempunyai nilai lebih,” ujar Kepala UPTD TPA Basirih, Yuliansyah Efendi.
Timbulan sampah di Banjarmasin pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 320 ton per hari dengan asumsi setiap orang menghasilkan sampah sebesar setengah kilogram per hari atau 913 meter kubik. Komposisinya terdiri dari sampah sisa makanan 53 persen, plastik 7 persen, kertas 11 persen, sampah taman 3 persen, tekstil 2 persen, logam dan kaca 2 persen, kayu dan produk kayu 1 persen, dan lain-lain 11 persen. Dari hasil sebuah penelitian, sampah sebanyak ini menyimpan potensi ekonomi sekitar Rp 4 miliar. Tentu saja jika dikelola dengan baik.
Sayangnya, sejauh ini di TPA Basirih baru sampah organik saja yang sudah diolah kembali sebagai bahan pembuatan kompos. Sedangkan sampah jenis lainnya hanya ditumpuk saja dan menjadi lahan mencari rezeki bagi para pemulung. Sedikitnya ada 300-an orang pemulung di lingkungan TPA Basirih dengan penghasilan rata-rata Rp 50 ribu per orang.
“Tapi tidak aturan yang membolehkan itu selama ini, kendalanya di birokrasi saja. Itu peer untuk pejabat di atas terutama yang terkait dengan lingkungan hidup,” katanya.
Jika pengolahan sampah ini bisa dilakukan, maka menurutnya pembangunan TPA regional seperti yang tengah diwacanakan oleh pemerintah provinsi guna mengintensifkan penanganan sampah dapat menjadi alernatif terakhir.
“Saya tidak tahu persis juga, tapi isunya TPA regional itu sudah masuk tahap perencanaan, lokasinya kira-kira di Bati-Bati atau Cempaka. Nah, kalau kita harus membuang sampah ke sana perlu biaya pengangkutan yang besar. Jadi, kami berpikir kalau bisa dikelola dengan baik di sini lebih baik di sini saja, yang tidak bisa dimanfaatkan sama sekali baru dibuang ke sana. Tapi sekarang apakah itu akan didukung oleh yang berwenang? Kami kan istilahnya orang kecil saja yang ingin maju. Kalau ada potensi untuk menambah PAD kenapa tidak?” cetusnya. (bersambung)

Tidak ada komentar: