A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Minggu, 10 Oktober 2010

Menengok Pengelolaan Sampah di TPA Basirih (2-Habis)

Pengembangan Terkendala Dana

Umur TPA Basirih diperkirakan hanya tinggal 5-6 tahun lagi saja. Jika semua zona pembuangan sampah yang ada sudah terpakai, maka pemkot perlu mencari lokasi TPA yang baru. Kecuali kalau sistem pengolahan sampah diubah menjadi sanitary landfill.

NAZAT FITRIAH, Banjarmasin

Saat ini, pengolahan sampah di TPA Basirih masih menggunakan sistem control landfill. Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping atau pembuangan terbuka dimana sampah yang sudah menumpuk secara periodik ditutup dengan tanah untuk mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan.
Lahan penumpukan sampah di TPA Basirih terdiri dari 16 zona. Pembagian ini dilakukan untuk memudahkan pemantauan. Sejak dibangun sekitar sepuluh tahun lalu, beberapa zona kini sudah berstatus pasif dan menjadi bukit-bukit yang hijau karena ditumbuhi tanaman di atasnya. Beberapa lainnya sebagian besar juga sudah dipakai, dan menyisakan zona 12 yang masih aktif. Untuk menjadi pasif, zona yang ketinggian sampahnya mencapai 5 meter memerlukan waktu sekitar 3-4 tahun.
“Kalau sudah tepakai semua otomatis harus mencari tempat yang baru. Sebenarnya bisa sih dimanfaatkan kembali, zona yang ada bisa dipakai untuk sanitary landfill,” ujar Kepala UPTD TPA Basirih, Yuliansyah Efendi.
Sebagaimana amanat UU nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, semua pemerintah daerah diwajibkan untuk menyelenggarakan pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan selambat-lambatnya tahun 2013, salah satunya dengan menerapkan sanitary landfill. Namun, dari hasil studi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banjarmasin, pembuatan sanitary landfill membutuhkan investasi sedikitnya Rp 50 miliar.
Sanitary landfill merupakan sistem penanganan sampah yang diyakini mampu mengontrol rembesan air dari sampah (lindi) sehingga tidak mencemari air tanah serta dapat mengendalikan emisi gas metan, karbondioksida, dan gas berbahaya lainnya akibat proses pemadatan sampah.
Secara singkat, di sanitary landfill sampah ditumpuk dalam satu lahan yang sebelumnya digali dan tanah liatnya dipadatkan atau disebut ground liner. Usai dipadatkan, tanah kemudian dilapisi dengan geo membran untuk menahan air lindi. Di atas lapisan geo membran dilapisi lagi dengan geo textile yang gunanya memfilter kotoran sehingga tidak bercampur dengan air lindi. Sebelum dipadatkan, sampah yang menumpuk diatas lapisan geo textille ditutup lagi dengan lapisan geo membran agar gas metan akibat proses pembusukan sampah yang dipadatkan tanpa oksigen tidak tersebar. Gas metan ini kemudian ditangkap dengan pipa-pipa sehingga bisa dimanfaatkan. Sedangkan hasil pemadatan sampah yang berupa kompos dapat dijual. Nah, perbedaan yang paling mendasar dengan control landfill adalah penutupan sampah dilakukan setiap hari.
“TPA Basirih idealnya memang mengarah ke situ. Cuma kita juga harus didukung dana, apalagi tanah kita ini kan rawa.Tapi sebenarnya itu bukan kendala kalau kita kelola dengan sentuhan teknologi, salah satunya dengan mengisolasi landfill yang mau kita olah itu dengan membangun tanggul. Ke depan harus sudah dibicarakan karena jika tidak diterapkan, maka sanksinya akan berdampak pada kepada daerah,” tandasnya.

Tidak ada komentar: