A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Kamis, 14 Oktober 2010

Bagi Trik Sedot Anggaran

BANJARMASIN – Rombongan DPRD Kabupaten Jepara yang terdiri dari 15 orang dibuat tertawa malu-malu saat bertandang ke gedung DPRD Kota Banjarmasin dalam rangka kunjungan kerja dengan agenda menimba ilmu soal pengelolaan transportasi, pasar, dan UMKM, kemarin.
Di ujung kata sambutannya saat membuka pertemuan yang berlangsung pada pukul 10.30 di ruang rapat paripurna tersebut, Ketua DPRD Kota Banjarmasin Rusian SE berbagi trik tentang bagaimana caranya untuk menyedot anggaran daerah sebesar-besarnya, yakni dengan cara membuat peraturan daerah (perda) sebanyak-banyaknya serta melakukan studi banding ke daerah yang jaraknya jauh.
“Saya ingin bagi-bagi trik bagaimana caranya mendapatkan anggaran yang banyak sampai Rp 20 miliar. Caranya adalah kami bikin banyak program, salah satunya prolegda (program legislasi daerah, red). Kami bikin saja banyak-banyak,” ujarnya.
Sepanjang tahun 2010 ini, target prolegda ditetapkan sebanyak 42 perda yang terbagi menjadi 22 perda inisiatif DPRD Kota Banjarmasin dan 20 perda inisiatif Pemerintah Kota Banjarmasin. Di antara 42 perda tersebut, yang terbanyak adalah perda tentang pajak dan retribusi, di samping juga perda-perda yang lainnya.
“Sebelah (pemkot, red) juga lebih pintar sehingga kami cuma dapat bagian 22,” imbuhnya.
Dalam sebulan, minimal ada tiga perda yang diajukan. Pembahasan perda sendiri dimulai dari penyusunan draft, konsultasi publik, pembentukkan panitia khusus (pansus), studi banding, hingga finalisasi.
“Nah, untuk studi banding itu pilih yang jauh seperti Papua, malah kalau bisa ke Papua saja semuanya,” tukasnya.
Sementara rombongan DPRD Kabupaten Jepara tertawa malu-malu, anggota Komisi II dan Komisi III DPRD Kota Banjarmasin yang ikut dalam pertemuan justru salah tingkah. Salah seorang di antaranya kemudian menyela.
“Interupsi Ketua, itu rahasia perusahaan,” katanya.
Rusian pun langsung membalas dengan mengatakan bahwa jangan hanya hal-hal yang baik yang diungkapkan, tapi hal-hal yang buruk juga perlu dibuka.
“Jadi, media jangan mencari yang buruk-buruk lagi, tapi biar dewan sendiri yang membuka keburukannya,” cetusnya.

Tidak ada komentar: