Sampah Berasal dari Pasar Sentra Antasari
Setiap hari, sekitar 6 meter kubik sampah dihasilkan dari aktivitas perdagangan di Pasar Sentra Antasari. Pernahkah terpikir di benak Anda kemana ‘pergi’-nya tumpukan sampah yang nampak tak berguna ini?
NAZAT FITRIAH, Banjarmasin
Pengelolaan sampah dengan pola kumpul-angkut-buang sudah seharusnya mulai ditinggalkan. Paradigma baru pengelolaan sampah telah berubah menjadi upaya pengurangan sampah melalui sistem 3R, yaitu reduce (mengubah pola hidup konsumtif), reuse (menggunakan kembali bahan-bahan yang potensial menjadi sampah dan bahan refill/isi ulang), dan recycle (mendaur ulang).
Sampai dengan tahun 2010, terdapat enam Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang telah menerapkan sistem 3R, salah satunya adalah TPST TPA Organik Basirih yang berada di lingkungan TPA Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Nah, ke tempat inilah sampah dari Pasar Sentra Antasari setiap harinya ditransfer untuk kemudian disulap menjadi kompos. Hasilnya, sebagian dimanfaatkan sendiri untuk pemupukan tanaman yang ada di taman-taman di kota Banjarmasin maupun untuk penghijauan. Sedangkan sebagian lagi dijual. Peminatnya kebanyakan adalah para pekebun, baik lokal maupun dari luar daerah seperti Marabahan dan Bati-Bati.
Utih, salah seorang petugas di TPST TPA Organik Basirih menuturkan bahwa dalam sehari, sampah yang masuk mencapai satu truk atau sekitar 6 meter kubik. Dari sampah-sampah ini, setiap harinya bisa dihasilkan kompos sampai dengan 500 kilogram.
“Tapi melihat kondisi cuaca juga, kalau sering hujan tidak bisa setiap hari karena untuk membuat kompos kita perlu tenaga matahari,” katanya.
Dijelaskannya, sebelum diolah, sampah yang masuk ke lokasi dipilah dulu secara manual untuk memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Setelah dipilah, biasanya sampah organik yang tersisa tinggal sekitar 5 meter kubik, yang lainnya adalah sampah anorganik seperti kayu, plastik, dan sebagainya. Sampah organik yang telah dipisahkan dibawa ke area pengomposan, sedangkan sampah anorganik yang tidak terpakai dimasukkan ke dalam kontainer dan dibuang ke pembuangan akhir.
“Setelah dipisah, sampah organik kemudian dicacah dan ditumpuk,” terangnya.
Sampah ini ditumpuk menjadi gundukan berbentuk trapesium memanjang. Setelah sampai seminggu, lalu dilakukan pembalikkan dengan cara memindahkan tumpukkan atau digulirkan ke blok di sebelahnya.
“Setelah sampai ke tempat yang paling ujung, kemudian masuk ke area penggemburan selama maksimum 3 hari kalau cuaca panas, atau kalau ada hujan bisa sampai 4 hari sampai benar-benar kering. Setelah itu dicacah lagi, setelah itu baru diayak. Waktunya sampai jadi ini kurang lebih sebulan,” lanjutnya.
Diungkapkannya, dulu produksi kompos lebih banyak karena sampah yang masuk berasal dari semua pasar yang ada di Banjarmasin. Tadinya, setiap hari truk yang masuk mencapai 4 buah per harinya sehingga dalam satu blok di area pengomposan ada 4 truk sampah yang ditumpuk.
“Dulu setiap ada pasar diletakkan kontainer, makanya banyak produksinya waktu itu. Sekarang sudah menurun karena untuk mengambil sampah itu tentu perlu ongkos. Selain itu, kalau dari pasar lain kebanyakan sampahnya sampah plastik sehingga agak cerewet pemilahannya,” ujarnya.
Setiap hari, sekitar 6 meter kubik sampah dihasilkan dari aktivitas perdagangan di Pasar Sentra Antasari. Pernahkah terpikir di benak Anda kemana ‘pergi’-nya tumpukan sampah yang nampak tak berguna ini?
NAZAT FITRIAH, Banjarmasin
Pengelolaan sampah dengan pola kumpul-angkut-buang sudah seharusnya mulai ditinggalkan. Paradigma baru pengelolaan sampah telah berubah menjadi upaya pengurangan sampah melalui sistem 3R, yaitu reduce (mengubah pola hidup konsumtif), reuse (menggunakan kembali bahan-bahan yang potensial menjadi sampah dan bahan refill/isi ulang), dan recycle (mendaur ulang).
Sampai dengan tahun 2010, terdapat enam Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang telah menerapkan sistem 3R, salah satunya adalah TPST TPA Organik Basirih yang berada di lingkungan TPA Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Nah, ke tempat inilah sampah dari Pasar Sentra Antasari setiap harinya ditransfer untuk kemudian disulap menjadi kompos. Hasilnya, sebagian dimanfaatkan sendiri untuk pemupukan tanaman yang ada di taman-taman di kota Banjarmasin maupun untuk penghijauan. Sedangkan sebagian lagi dijual. Peminatnya kebanyakan adalah para pekebun, baik lokal maupun dari luar daerah seperti Marabahan dan Bati-Bati.
Utih, salah seorang petugas di TPST TPA Organik Basirih menuturkan bahwa dalam sehari, sampah yang masuk mencapai satu truk atau sekitar 6 meter kubik. Dari sampah-sampah ini, setiap harinya bisa dihasilkan kompos sampai dengan 500 kilogram.
“Tapi melihat kondisi cuaca juga, kalau sering hujan tidak bisa setiap hari karena untuk membuat kompos kita perlu tenaga matahari,” katanya.
Dijelaskannya, sebelum diolah, sampah yang masuk ke lokasi dipilah dulu secara manual untuk memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Setelah dipilah, biasanya sampah organik yang tersisa tinggal sekitar 5 meter kubik, yang lainnya adalah sampah anorganik seperti kayu, plastik, dan sebagainya. Sampah organik yang telah dipisahkan dibawa ke area pengomposan, sedangkan sampah anorganik yang tidak terpakai dimasukkan ke dalam kontainer dan dibuang ke pembuangan akhir.
“Setelah dipisah, sampah organik kemudian dicacah dan ditumpuk,” terangnya.
Sampah ini ditumpuk menjadi gundukan berbentuk trapesium memanjang. Setelah sampai seminggu, lalu dilakukan pembalikkan dengan cara memindahkan tumpukkan atau digulirkan ke blok di sebelahnya.
“Setelah sampai ke tempat yang paling ujung, kemudian masuk ke area penggemburan selama maksimum 3 hari kalau cuaca panas, atau kalau ada hujan bisa sampai 4 hari sampai benar-benar kering. Setelah itu dicacah lagi, setelah itu baru diayak. Waktunya sampai jadi ini kurang lebih sebulan,” lanjutnya.
Diungkapkannya, dulu produksi kompos lebih banyak karena sampah yang masuk berasal dari semua pasar yang ada di Banjarmasin. Tadinya, setiap hari truk yang masuk mencapai 4 buah per harinya sehingga dalam satu blok di area pengomposan ada 4 truk sampah yang ditumpuk.
“Dulu setiap ada pasar diletakkan kontainer, makanya banyak produksinya waktu itu. Sekarang sudah menurun karena untuk mengambil sampah itu tentu perlu ongkos. Selain itu, kalau dari pasar lain kebanyakan sampahnya sampah plastik sehingga agak cerewet pemilahannya,” ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar