A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Jumat, 15 Oktober 2010

Kala Binar Remaja Mesjid Memudar

Bergaulah dengan kawula muda dan manfaatkan keberadaan mereka demi menyukseskan misi-misi besar. Demikian Rasulullah SAW suatu kali pernah berpesan. Di masa-masa paling kritis menjelang akhir hayatnya, beliau menyerahkan satu tanggung jawab besar untuk memimpin ekspedisi militer ke wilayah kekuasaan imperium Romawi kepada seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Usamah bin Zaid. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kemampuan pemuda di mata Islam.

Sebagai wahana untuk membina generasi muda muslim yang tangguh dan memiliki ghirah (semangat) keagamaan yang tinggi, di Indonesia dikenal suatu wadah yang disebut dengan remaja mesjid. Perkumpulan pemuda yang juga bertujuan untuk ikut memakmurkan mesjid ini ada hampir di semua mesjid.

Di Banjarmasin, saat ini ada sekitar 200-an mesjid yang berdiri. Namun, gaung remaja mesjidnya sendiri terdengar sayup-sayup.

Hal ini diakui sendiri oleh Kasi Pemuda, Wanita, dan Pramuka Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Drs H Muhammad Bayani. Sudah hampir setahun ini Angkatan Muda Mesjid Raya Sabilal Muhtadin (AM MRSM) vakum dari kegiatan rutinnya.

“Makanya, kami bertekad untuk menggerakkan kembali angkatan muda yang kelihatannya memang menurun gairah partisipasinya. Saat ini kami masih belum mulai, tapi ke depannya insya Allah kami akan mengupayakan agar angkatan muda ini penuh dengan kegiatan yang dapat menyalurkan kreatifitas remaja,” ujarnya.

Sebetulnya, AM MRSM tidak vakum sepenuhnya. Setiap tahun, mereka tetap mengadakan kegiatan pesantren ramadan. Namun, untuk kegiatan yang lain memang tidak seramai dulu. Sebelumnya, AM MRSM yang berdiri sejak tahun 1983 ini punya segudang kegiatan, seperti latihan drumband, karate, dan menggelar aksi-aksi sosial seperti donor darah maupun lomba-lomba seperti loma burdah, drumband.

AM MRSM sendiri memang diproyeksikan sebagai tempat untuk mengembangan potensi para remaja, baik di bidang pendidikan dan pelatihan, seni, olahraga, dan lain-lain. Ke depan, ada rencana untuk menambahkan latihan silat dan pramuka.

“Kalau sekarang aling pesantren ramadan dan dilanjutkan dengan latihan kepemimpinan (LK) untuk menjaring pengurus baru. Tapi untuk kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat memang kurang,” terangnya.

Ya, pesantren ramadan yang biasanya mampu menarik ratusan peminat memang juga sekaligus dimanfaatkan untuk merekrut anggota. Seusai mengikuti pesantren ramadan, mereka yang berminat bergabung dengan AM MRSM bisa mengikuti LK tingkat pertama. Dalam pelatihan yang diselenggarakan selama 2-3 hari ini, selain materi yang berhubungan dengan keangkatanmudaan yang disampaikan oleh para alumnus AM MRSM, juga diselipkan materi pendukung baik dari kepolisian, akademis, sosiologis, dan lain-lain. Di samping LK yang digelar sebanyak dua kali, ada pula pelatihan lain seperti intermediate training untuk pemantapan.

Sementar itu, selain mulai turunnya semangat para aktivisnya, tersendatnya perkembangan AM MRSM sepanjang tahun lalu juga disebabkan karena mesjid sedang direhab sehingga tidak ada tempat untuk menggelar kegiatan. Di samping itu, sekretariat AM MRSM juga harus tergusur oleh pembangunan ruang serbaguna.

“Jadi, setahun kemarin bisa dikatakan vakum. Semua lahan di lingkungan ini terpakai dengan adanya perbaikan mesjid dan sekretariat mereka juga dipakai, jadi pengembangannya sulit dan komunikasi dengan badan pengelola pun terputus,” urainya.

Untuk sementara waktu, sekretariat akan ditempatkan di mesjid sehingga diharapkan bisa membangkitkan kembali kreatifitas AM MRSM.

“Dan dengan sudah terbentuknya pengurus Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin yang baru, kami bertekad mengembangkan kreatifitas yang dimiliki masing-masing anggota dan pemuda lain yang berminat bergabung,” timpalnya.

Pihaknya sendiri akan mendukung seratus persen untuk pengembangan AM MRSM, termasuk dalam urusan pendanaan, karena keberadaan suatu remaja mesjid dipandang sangat penting sebagai wahana pendidikan mental Islam. Apalagi, pengkaderan dan ilmu kepemimpinan tidak diajarkan di sekolah.

“Angkatan muda ini adalah generasi mesjid yang disiapkan untuk istilahnya manggaduh mesjid. Jadi, mereka tahu seluk-beluk mesjid dan akan mengembangkan syiar di mesjid,” tukasnya.

Sekarang, pengurus baru AM MRSM belum tersusun, baru ada ketua yang akan dibantu formatur untuk menyusun kepengurusan.

“Setelah kita SK-kan, langsung disusun program kerja. Intinya berkisar pada diklat, olahraga, seni, dan lain-lain yang dianggap perlu nanti bisa ditambahkan. Misalnya kegiatan sosial seperti donor darah, sunatan masal, dan lain-lain. Selain program tetap, ada juga yang insidental,” paparnya.

Nasib yang tak jauh berbeda juga dialami oleh Angkatan Muda Mesjid Al-Jihad (AMMA) Banjarmasin. Sejak awal tahun 2010, hampir-hampir tidak ada lagi geliat kegiatan rutinnya.

Awalnya, AMMA bernama Remaja Mesjid Jihad (RMJ). Setelah tahun 2000, namanya kemudian berganti menjadi Angkatan Muda Mesjid Al-Jihad (AMMA). Adapun yang melatarbelakangi terbentuknya organisasi ini adalah untuk mengakomodir semangat remaja dan pemuda muslim yang ingin memperdalam agamanya.

Wakil Ketua AMMA, Iswahyudi menuturkan bahwa saat ini, kegiatan periodik yang masih eksis hanya pendidikan ramadan atau dikram. Di samping itu, pada waktu-waktu tertentu ia dan teman-teman terkadang juga menggelar kegiatan dadakan dengan menjalin kerj sama dengan pihak ketiga, misalnya donor darah dan khitanan massal.

“Yang kontribusinya lebih luas, kami juga pernah menggalang donasi untuk korban gempa Padang,” ujarnya.

Yang menarik, AMMA juga tak ketinggalan menunjukkan kepeduliannya terhadap renovasi Mesjid Al-Jihad yang kini tengah berjalan, yakni dengan cara menggelar kegiatan makan amal.

“Sifatnya masyarakat membeli makanan dengan nilai sesuai nominal yang tertera di voucher, dan hasilnya kita sumbangkan ke mesjid,” ceritanya.

Namun, seperti disinggung sebelumnya, untuk agenda rutin harian saat ini harus vakum karena banyak aktivisnya yang punya kesibukan lain.

“Yang bisa kami usahakan saat ini hanya Salat Jumat berjamaah sehingga setelahnya kami bisa berkumpul. Yang lain-lain belum terorganisasi dengan baik, khususnya yang harian, karena untuk anggota yang masih sekolah tentu sibuk dengan sekolahnya, sedangkan yang kuliah sekarang sepertinya lebih cenderung tertarik pada politik. Itu kendalanya,” bebernya.

Selain itu, pada situasi dan kondisi saat ini memang para remaja umumnya lebih termotivasi untuk mengikuti kegiatan yang have fun. Para remaja ini juga kebanyakan beranggapan bahwa di usia mereka, belum saatnya untuk mendalami agama.

“Orang-orang seperti kami ini pasti dianggap aneh, hari gini kok masih main di mesjid?” cetusnya seraya tergelak.

Sementara itu, untuk keanggotaan sendiri, AMMA tidak memberikan batasan usia. Artinya, sekali menjadi anggota, maka meski sudah tidak lagi remaja akan tetap dianggap sebagai anggota. Sedangkan untuk struktur kepengurusan AMMA satu periodenya berlangsung selama 2 tahun.

“Kami tidak ada yang namanya keanggotaan, sebutannya angkatan saja. Kita ingin menjaga silaturahmi itu supaya tidak akan berakhir meski sudah tidak remaja lagi. Saat ini mereka mungkin masih SMA, tapi beberapa tahun ke depan mereka akan tetap jadi anggota. Kalau dikumpulkan seluruh angkatan itu mungkin ada sekitar 100 orang,” ucapnya.

Sebetulnya, kepengurusan AMMA yang ada saat ini adalah pengurus periode 2007-2009. Namun, akibat tidak adanya regenerasi, pengurus yang lama tetap dipertahankan untuk menjaga kontinyuitas kegiatan.

“Kami tetap berusaha eksis karena kami lihat manfaatnya. Mungkin kebanyakan di antara kita lahir dalam keadaan Islam, tapi apakah salat dan ibadah kita lainnya sudah benar kita tidak akan tahu kalau kita tidak mengkajinya sendiri. Selain itu, di masa pencarian jati diri dan tujuan hidup, mengikuti kegiatan seperti ini membuat kita lebih terarah,” katanya mantap.


Remaja Mesjid Perlu Motivator

Keberadaan remaja mesjid dipandang sangat penting dalam rangka pembinaan kader-kader muda muslim dimana mereka diharapkan nantinya akan menjadi pemegang tongkat estafet dari generasi-generasi terdahulu dalam upaya memakmurkan mesjid.

Ketua Umum DPD BKPRMI Kota Banjarmasin, Drs Ahmad Rizkon MPdI berpendapat dengan terbentuknya remaja mesjid, selain untuk menelurkan remaja-remaja yang akan berperan sebagai penggerak dakwah, juga sebagai salah satu upaya untuk menjadikan mesjid sebagai pusat dakwah.

Ia mengatakan bahwa pembinaan yang utama atas remaja mesjid merupakan tanggung jawab dari badan pengelola mesjid masing-masing, khususnya bagian yang menangani kepemudaan. Sedangkan BKPRMI hanya berfungsi melakukan komunikasi, konsultasi, dan koordinasi kegiatan.

“Pada awal masa pengurusan kita sempat melakukan pembinaan dengan cara silaturahmi dari mesjid ke mesjid antara waktu magrib dan isya, tapi itu tidak bisa berjalan secara kontinyu. Namun, pembinaan yang sesungguhnya dan lebih intensif dilakukan oleh badan pengelola mesjid. Kita hanya sebagai motivator untuk menggerakkan mereka,” ujarnya.

Menyikapi soal gaung remaja mesjid yang nampakya sudah tidak senyaring dulu lagi, ia mengakui bahwa pola kaderisasi yang ada di BKPRMI belum berjalan dengan baik. Di lain pihak, keberadaan remaja mesjid juga sangat tergantung dari perhatian yang diberikan oleh badan pengelola mesjid.

“Badan pengelola yang memberikan perhatian besar, biasanya remaja mesjidnya akan tumbuh dengan baik pula,” imbuhnya.

Terlebih untuk mengadakan kegiatan-kegiatan, tentu perlu biaya sehingga jika badan pengelola mesjid tidak mendukung, maka para remaja yang belum mapan secara ekonomi ini tentu enggan untuk mengambil tanggung jawab di remaja mesjid.

Hal ini diamini oleh Direktur LPP Dakwah dan Sumber Daya Manusia BKPRMI Kota Banjarmasin, Sarmiji Asri SAg MHI. Ia pun ikut prihatin dengan redupnya aktivitas sejumlah remaja mesjid.

“Ada yang cuma menunggu badan pengelola mengadakan kegiatan, baru mereka berperan. Itupun di bagian logistik, istilahnya kata urang Banjar ‘basasurung’. Membagi makanan atau malah jaga parkir. Sementara dalam kegiatan keagamaannya mereka tidak terlibat,” katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya menghimbau kepada badan pengelola mesjid agar lebih memberi perhatian dan motivasi kepada remaja mesjidnya masing-masing untuk lebih aktif. Apalagi dengan jumlah mesjid di Banjarmasin yang mencapai lebih dari 200 buah, maka jika remaja mesjid ini benar-benar dikelola dengan baik, dampaknya tentu akan sangat luar biasa. Asal ada kegiatan yang positif dan badan pengelola mendukung baik moral maupun materil, ia yakin remaja mesjid bisa berkembang.

“Tapi Ada juga memang remajanya sendiri yang tidak mau mengambil peran, padahal potensinya ada. Dia ke mesjid hanya salat saja, tidak peduli ada atau tidak ada kegiatan lainnya di mesjid,” katanya.

Sementara itu, di lain pihak Rizkon menilai bahwa para aktivis remaja mesjid sekarang ini memerlukan sosok yang bisa memotivasi mereka.

“Remaja sekarang tidak menjadikan dirinya sebagai inovator dan mau mengambil peran di mesjid yang ada di lingkungannya. Tapi sekiranya di setiap mesjid itu ada satu orang saja yang bisa mengajak, pasti bisa berkembang dengan baik. Jadi, yang dicari itu mungkin figur yang bisa memulai, mengajak dan mengkondisikan,” tuturnya.

Rizkon dan Sarmiji sendiri notabene merupakan mantan-mantan aktivis remaja mesjid di zamannya. Pada tahun 1984-1991, Rizkon berkiprah di Remaja Mesjid Al-Mujahidin Belitung, sedangkan Sarmiji di Remaja Mesjid Al Anshor dan Mesjid Jami Teluk Tiram.

Kala itu, kegiatan remaja mesjid yang digeluti keduanya cukup sibuk dengan berbagai kegiatan, hamper tiada malam tanpa istirahat. Mulai dari kajian islam, fiqih, tajwid, kisah-kisah alquran, ceramah umum, sampai Bahasa Inggris. Ada pula lomba-lomba antar anggota sebagai sarana memotivasi sekaligus mengevaluasi kemajuan yang sudah dicapai. Di samping itu, terkadang diadakan juga kegiatan di luar lingkungan mesjid maupun aksi social. Seiring dengan bertambahnya kesibukan, termasuk ditarik ke kepengurusan BKPRMI Kota Banjarmasin, keduanya pun akhirnya nonaktif.

“Kita sebenarnya maunya di tiap kecamatan mungkin ada satu remaja mesjid percontohan, sehingga mudah merujuk ke mesjid lain. Maunya begitu, jadi dalam program BKPRMI kita ingin menjadikan mesjid itu sebagai wadah dakwah sekaligus pusat gerakan pengembangan agama.Tapi nampaknya memang belum berjalan secara sinergis karena faktor-faktor kendala itu tadi,” ucap Rizkon. (naz)


Sekilas Tentang BKPRMI

Di Indonesia, remaja mesjid-remaja mesjid saling berkomunikasi melalui suatu organisasi bernama Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Mesjid Indonesia atau BKPRMI. Kepengurusannya berjenjang mulai di tingkat pusat sampai kabupaten/kota.

Ketua Umum DPD BKPRMI Kota Banjarmasin, Drs Ahmad Rizkon MPdI mengisahkan bahwa ide pembentukkan BKPRMI tercetus ketika mesjid tengah ramai-ramainya bermunculan di kota-kota dan lingkungan kampus.

“Ketika itu sedang ramai mesjid kampus dan di kota-kota. Mereka melakukan aktivitas sendiri-sendiri sehingga ada keinginan agar mesjid-mesjid ini bisa bergabung dalam satu wadah,” ujarnya.

Maka, pada tanggal 3 September 1977 di Mesjid Istiqomah Bandung, akhirnya dibentuklah forum yang awalnya bernama Badan Komunikasi Pemuda Mesjid Indonesia (BKPMI) yang dalam perkembangan selanjutnya berubah menjadi Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI).

“Dalam perkembangan berikutnya dirasakan perlu menaungi juga yang namanya remaja. Akhirnya, pada munas ketujuh, dilakukan perubahan menjadi BKPRMI. Karena ini remaja, maka kegiatannya pun harus menyesuaikan dengan apa yang mereka sukai. Kalau pemuda mungkin lebih idealis, tapi remaja kan umumnya lebih senang yang rame,” katanya.

Sebagai ajang pertemuan BKPRMI se-Indonesia, BKPRMI memiliki sejumlah agenda rutin nasional, seperti jambore pemuda remaja mesjid dan perkampungan kerja permuda remaja mesjid yang tujuannya untuk membentuk remaja muslim yang memikiki semangat beragama yang tinggi di samping juga menempa akhlak mereka semakin baik.

Selain BKPRMI, sebenarnya ada juga organisasi-organisasi lain yang serupa, seperti Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) yang berdiri pada tahun 2003. Ada lagi beberapa organisasi lain, namun usianya tak pernah panjang.

“Apapun namanya, semua kami sambut baik. Karena intinya sama, yaitu niatnya agar kegiatan remaja ini mendapat tempat dimana mereka akan ditempa menjadi remaja-remaja yang mampu memberi warna di masyarakat,” ucapnya.

Tidak ada komentar: