A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Jumat, 10 Juni 2011

Pertamina Janji Bantu Pangkalan Mitan

BANJARMASIN – Program konversi minyak tanah ke elpiji di Banjarmasin sudah bergulir sejak bulan lalu. Beberapa tempat pun mulai ramai menjual tabung gas tiga kilogram yang berwarna hijau itu, seperti minimarket.
Sementara pangkalan minyak tanah yang setelah konversi akan berubah secara perlahan menjadi pangkalan elpiji, rencananya baru akan mulai mendapat pasokan pada pekan depan.
Namun, nampaknya tak semua pangkalan minyak tanah di Banjarmasin yang jumlahnya mencapai sekitar 500 buah akan mengikuti perubahan ini. Salah satu alasannya adalah masalah modal. Pasalnya, sebelum menjadi pangkalan elpiji, mereka terlebih dahulu harus menebus 100 buah tabung elpiji tiga kilogram dari Pertamina dengan harga Rp 140.500 pertabung atau totalnya Rp 14.050.000. Kalau tidak menebus, maka mereka tidak akan mendapat pasokan minyah tanah lagi.
“Hal inilah yang memberatkan pangkalan. Sebab, setiap pangkalan memiliki permodalan yang berbeda-beda,” ujar Ketua Himpunan Pangkalan Minyak Tanah Kota Banjarmasin Riduan Syahrani.
Sales Area Manager Pertamina Kalselteng Iin Febrian yang dikonfirmasi membenarkan bahwa pangkalan minyak tanah memang diwajibkan untuk menebus tabung gas tiga kilogram dari Pertamina. Diminta komentarnya soal keberatan para pemilik pangkalan minyak tanah terkait kebijakan tersebut, ia mengaku dapat memaklumi. Namun, pihaknya menilai bahwa sebuah usaha idealnya memang harus dimulai dengan modal kerja.
“Mungkin karena selama ini pangkalan sudah ‘terlena’ dengan pola kerja yang ada, makanya mereka kaget. Tapi itu lumrah,” katanya.
Yang dimaksudnya dengan pola kerja itu adalah selama ini pangkalan minyak tanah hampir tidak memerlukan modal dalam menjalankan usaha mereka, dimana mereka hanya cukup menyediakan drum untuk menampung minyak tanah yang dipasok agen, dan baru membayar setelah dagangan mereka laku. Selain itu, selama ini mereka juga tidak terbiasa memasarkan dagangannya, tapi sebaliknya pembelilah yang berbondong-bondong datang.
“Idealnya, mereka juga ikut memasarkan,” tambahnya.
Pihaknya berpendapat, pola kerja seperti ini tidak baik dan membuat pelaku usaha menjadi manja.
“Jangan dimanjakan, tidak baik,” ucapnya.

Tidak ada komentar: