A good journalist is not the one that writes what people say, but the one that writes what he is supposed to write. #TodorZhivkov

Minggu, 05 Desember 2010

Jepang Lirik Perawat Kalsel

Digaji Rp 15 Juta

BANJARMASIN – Peluang emas untuk bekerja di luar negeri dengan gaji berlipat ganda menghampiri para perawat di Kalimantan Selatan. Kabarnya, Japan-Indonesia Association for Economy Cooperation (JIAEC) tengah melakukan penjajakan untuk merekrut perawat dari sejumlah daerah di Indonesia dan dipekerjakan di negeri matahari terbit itu, salah satunya Kalsel.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, drg Rosihan Adhani MS yang dikonfirmasi (26/11) membenarkan informasi tersebut.
“Baru penjajakan,” ujarnya.
Pada hari Senin (29/11), rencananya utusan JIAEC akan datang ke Banjarmasin dalam rangka sosialisasi. Sebelumnya, JIAEC ternyata sudah lebih dulu merekrut perawat dari Bali, Yogyakarta, dan Jawa Barat. Kali ini, JIAEC kembali menjajaki kemungkinan mengimpor perawat dari Indonesia. Ada dua daerah di luar Pulau Jawa-Bali yang dibidik, yakni Sumatera Selatan dan Kalsel.
“Prosesnya masih panjang, nanti mereka juga ingin bertemu gubernur dan ada MoU. Seperti di Sumsel, saya dengar 16 Desember nanti gubernur Sumsel mau diajak dulu ke Jepang,” katanya.
Belum ada keterangan berapa jumlah tenaga perawat yang dicari. Namun, diterangkannya bahwa saat ini Jepang sangat membutuhkan tenaga perawat, khususnya untuk perawat rumah sakit dan perawat orang lanjut usia (lansia) di panti jompo.
Umur harapan hidup orang Jepang yang semakin tinggi hingga mencapai rata-rata di atas 80 tahun dan gaya hidup orang muda Jepang yang dilanda tren ogah punya anak membuat perbandingan jumlah lansia dengan penduduk usia produktif menjadi tidak seimbang. Tepatnya, lansia kini mendominasi negeri Sakura.
“Penduduk muda walau menikah, tapi mereka tidak ingin punya anak. Alasannya, kalau punya anak, otomatis ada yang harus berhenti bekerja,” tuturnya.
Di sisi lain, profesi perawat nampaknya juga mulai tidak diminati lagi di Jepang. Dewasa ini, sektor industri dan teknologi lebih populer di kalangan pencari kerja sehingga terjadi kekosongan yang cukup mengkhawatirkan di sektor tenaga kesehatan, khususnya perawat.
“Sebelum dikirim, para perawat ini tentunya nanti akan ditraining dulu selama 6 bulan dan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh BP2TKI (Balai Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia) dan lembaga dari Jepang,” tambahnya.
Kalau lulus, maka mereka akan dipekerjakan selama tiga tahun dan dapat diperpanjang jika kinerjanya memuaskan. Bahkan, pemerintah Jepang bersedia memberikan green pass jika mereka ingin menjadi warga negara setempat. Gajinya? Rp 15 juta per bulan!
“Jangan tanyalah berapa kali lipatnya itu dari gaji di dalam negeri,” selorohnya.
Sementara itu, pihaknya sangat antusias menyambut kesempatan langka ini. Hal ini mengingat lulusan perawat di Kalsel saat ini mencapai 500 orang per tahun sehingga lapangan pekerjaan untuk mereka harus dipikirkan secara serius agar dapat terserap dengan baik dan tidak menambah panjang daftar pengangguran.
“Kalau tidak dipikirkan daya serapnya, nanti bisa melebihi dari kebutuhan,” imbuhnya.
Ia sendiri cukup optimis lulusan perawat di Kalsel dapat memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan sesuai dengan standar kerja tenaga perawat di Jepang. Terlebih, di Kalsel ada dua sekolah kesehatan yang telah membuka kelas internasional.
“Bisalah, kenapa tidak? Selama ini kita dorong terus supaya mereka bisa bekerja di luar negeri, misalnya Timur Tengah,” ucapnya.
Apalagi dengan banyaknya kasus kekerasan yang menimpa tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di luar negeri dimana umumnya mereka bekerja di sektor nonformal, maka menurutnya sudah saatnya pemerintah lebih mendorong pengiriman tenaga kerja profesional yang terampil dan terdidik.

Tidak ada komentar: