Meski Kontribusi PDRB Tambang Geser Pertanian
BANJARMASIN – Struktur ekonomi Kalimantan Selatan mengalami pergeseran. Pada triwulan II 2011, sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding sektor pertanian, dimana hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel Bambang Pramono mengungkapkan, sumbangan sektor pertambangan dan penggalian terhadap jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalsel berdasar harga berlaku pada triwulan II 2011 mencapai Rp 4,4 triliun atau 25,28 persen dari total PDRB sebesar 17,36 triliun.
Disusul sektor pertanian sebesar Rp 3,8 triliun atau 21,87 persen, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp 2,55 triliun atau 14,69 persen.
“Lebih dari separuh PDRB Kalsel memang selalu didominasi tiga sektor tersebut, tapi tahun lalu sektor pertanian yang terbesar,” ujarnya.
Walau pada triwulan II 2010 dan 2011 sektor pertanian sama-sama memasuki musim panen, namun tahun ini kontribusi sektor pertanian masih tertinggal dibanding sektor pertambangan dan penggalian seiring dengan makin tingginya permintaan batu bara dunia.
Memang, sejak harga minyak melonjak di tengah gejolak yang terjadi di kawasan Timur Tengah, batu bara menjadi bahan bakar alternatif yang banyak diburu. Kinerja pertambangan, khususnya batu bara yang merupakan penyumbang terbesar dari total devisa ekspor Kalsel pun makin bergairah saja.
Namun demikian, kinerja pertambangan secara umum dinilai belum membawa multiplier effect atau efek ganda terhadap perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di daerah ini. Pasalnya, batu bara yang diekspor masih berupa bahan mentah.
“Mestinya yang lebih diutamakan adalah industri lokal. Kalau diolah misalnya menjadi briket, kan ada nilai tambah dan bisa menggerakkan sektor ekonomi yang lain,” katanya.
Kondisi ini tentu perlu mendapat perhatian serius. Terlebih pemerintah pusat kini tengah menyiapkan regulasi mengenai larangan ekspor batubara kalori rendah dan mewajibkan perusahaan meningkatkan kualitas batubara sebelum diekspor.
Langkah ini ditempuh guna mendukung program hilirisasi dan peningkatan nilai tambah hasil produksi pertambangan sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara. Batu bara yang terdapat di Kalsel sendiri didominasi kalori rendah. Jika rencana tersebut benar-benar diterapkan, maka Kalsel terancam kehilangan pemasukan yang sangat besar.
Meski begitu, Bambang mengatakan bahwa kalaupun nanti kinerja ekspor turun dan batu bara yang dihasilkan hanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, hal itu tidak akan terlalu memengaruhi ekonomi Kalsel sepanjang tambang batu bara yang ada masih berproduksi. Selain itu, juga masih banyak peluang ekonomi yang belum tergarap, seperti agroindustri.
“Cadangan batu bara kita memang masih banyak, tapi seyogyanya kita mulai berpikir agar jangan hanya bergantung pada batu bara,” ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar