BANJARMASIN – Perum Pegadaian Cabang Banjarmasin pesimis
dapat merealisasikan nilai transaksi gadai yang ditargetkan pada tahun 2011
ini. Kepala Perum Pegadaian Cabang Banjarmasin Dwi Santoso mengungkapkan,
akumulasi nilai transaksi hingga bulan Agustus lalu baru mencapai Rp 98 miliar
atau sekitar 45 persen dari target sebesar Rp 176 miliar.
“Pada akhir tahun nanti, mungkin juga cuma bisa sampai
kisaran Rp 160 miliar,” ujarnya.
Dijelaskannya, pertumbuhan bisnis Perum Pegadaian di Kalsel
sebetulnya cukup baik dengan rate 34-35 persen pertahun. Angka tersebut bahkan
berada di atas rata-rata pertumbuhan regional Kalimantan yang hanya sebesar 33
persen pertahun. Saat ini, rata-rata nilai transaksi mencapai Rp 10 juta
pernasabah.
“Emas yang digadaikan rata-rata beratnya 15-20 gram
pernasabah,” tambahnya.
Sedangkan jumlah nasabah yang tidak melunasi utangnya sehingga
barang jaminan terpaksa dijual paksa atau dieksekusi juga relatif sangat kecil,
yakni hanya 0,1 persen.
“Dari 1.200 potong barang, paling hanya 10-12 barang saja
yang dieksekusi,” sambungnya.
Hanya saja, dari segi nominal, transakasi gadai di Kalsel
memang masih relatif kecil hingga sejauh ini Kalsel berada di urutan ketiga
setelah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Salah satu faktor penyebabnya
adalah jumlah kantor cabang yang masih minim.
“Dari sisi jumlah cabang, memang masih kurang. Perlu ada
penambahan untuk mengejar peringkat itu,” katanya.
Diungkapkannya, saat ini di Kalsel baru terdapat sembilan
kantor cabang Pegadaian yang tersebar di dua wilayah, yakni Kota Banjarmasin
dan Kabupaten Banjar. Sedangkan di daerah lain, jumlah kantor cabang ini bisa
sampai 20 unit lebih.
Sementara itu, kantor Pegadaian Cabang Banjarmasin sejak
Kamis (1/9) lalu telah kembali beroperasi seperti biasa. Memang, pada tahun ini
Perum Pegadaian tak ikut cuti bersama Lebaran dalam rangka memberikan layanan yang
optimal kepada masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar