BANJARMASIN – Penjualan mi instan di Kalimantan Selatan selama bulan puasa relatif stabil. Ramainya pasar wadai yang menyajikan aneka menu makanan membuat masyarakat memiliki banyak pilihan, sehingga mi instan pun tak terlalu dilirik.
Demikian diungkapkan Branch Manager PT Indofood CBP Sukses Makmur Kalsel Johan Lee. Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan di Pulau Jawa, dimana konsumsi mi instan pada bulan puasa justru cenderung naik mengingat tingkat mobilitas masyarakatnya yang tinggi, sehingga untuk berbuka puasa maupun sahur mereka lebih memilih menu yang praktis.
“Tapi kalau bulan Ramadan di Kalsel kan banyak orang jualan wadai dan makanan-makanan lainnya,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan buka puasa bersama relasi Indofood di Banjarmasin.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa tingkat konsumsi mi instan di Pulau Jawa dan Kalimantan sebetulnya hampir sama, hanya saja di Pulau Jawa penduduknya lebih banyak. Pertumbuhan penjualan pun cukup baik setiap tahunnya
Diungkapkannya, dari tiga wilayah pemasaran yang dibawahi di Pulau Kalimantan, pangsa pasar mi instan di Kalsel merupakan yang terbesar dibanding Kalteng dan Kaltim.
“Persentasenya 40 persen Kalsel, 25 persen Kalteng, dan 30 persen Kaltim,” bebernya.
Sedangkan dari sisi produk, varian rasa dengan local taste lebih mendominasi penjualan, seperti Soto Banjar dan Soto Makassar.
Di samping maraknya pasar wadai, faktor ekonomi yang disebabkan oleh kelangkaan solar juga menjadi salah satu alasan pihaknya kesulitan menggenjot penjualan dalam beberapa bulan terakhir. Memang, kelangkaan solar masih menjadi momok bagi dunia usaha di Kalsel. Selama bulan puasa ini, antrean kendaraan di SPBU-SPBU belum juga terurai.
Johan menuturkan bahwa kelangkaan solar membuat pihaknya kesulitan melakukan pengiriman barang ke daerah-daerah. Selain itu, biaya operasional juga membengkak karena perusahaan harus mengeluarkan extra cost.
“Sejak solar langka, kita harus keluar tambahan biaya sekitar 2-3 persen,” ungkapnya.
Walau begitu, adanya biaya tambahan ini tak berdampak pada kenaikan harga produk. Akan tetapi, imbasnya profit perusahaan menjadi terpangkas.
“Ini memang kendala bersama, tapi paling tidak pemerintah mestinya memerhatikan hal seperti itu,” harapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar