Kisah Penjual Jasa Penukaran Uang Pecahan
BANJARMASIN – Meningkatnya kebutuhan uang pecahan dan uang baru menjelang Lebaran, membuat penjual jasa penukaran uang dadakan kembali menjamur. Seperti tahun-tahun yang lewat, mereka beroperasi di tepi jalan sambil melambai-lambaikan segepok uang pecahan yang masih baru kepada para pengguna jalan yang melintas.
Salah satunya Rusli (47), warga Jl Pekapuran Raya. Di luar bulan puasa, profesinya sendiri tak jauh-jauh dari makelar penukaran uang, khususnya mata uang asing seperti dollar Amerika, dollar Singapura, ringgit Malaysia, maupun riyal Arab Saudi.
Ditemui di kawasan Jl Lambung Mangkurat tepatnya di seberang BCA Banjarmasin, ia mengaku bisa mengantongi keuntungan antara Rp 150 ribu-Rp 200 ribu dalam sehari dari hasil menjual jasa penukarang uang pecahan dan uang baru tersebut.
Untuk pecahan Rp 10 ribu dijual dengan untung Rp 12 ribu-Rp 15 ribu perseratus lembar, sedangkan pecahan 100 ribu antara Rp 40 ribu-Rp 50 ribu perseratus lembar.
“Sudah seminggu lebih saya menjual uang pecahan ini. Untungnya sih tidak banyak, tidak tentu juga,” katanya.
Uang pecahan itu sendiri didapatnya dengan menukarkan ke Bank Indonesia (BI) yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Setiap kali melakukan penukaran, ia biasa membawa uang antara Rp 5 juta-Rp 7 juta.
“Uang itu saya pinjam dari kakak ipar saya,” ujarnya.
Namun, bagi Rusli tak selalu untung yang didapatnya dari melakoni pekerjaannya ini. Pasalnya, beberapa kali ia malah harus menanggung rugi ketika salah melakukan penghitungan uang.
“Bahkan, pernah kelebihan sampai Rp 500 ribu. Padahal, saya cuma mengambil untung sedikit. Saya hanya bisa minta tolong agar yang merasa menerima kelebihan uang itu mau mengembalikannya,” harapnya.
Sementara itu, makin ramainya penjual jasa serupa pada tahun ini, menurut Rusli cukup menggerus keuntungannya. Dua tahun lalu, ia sanggup meraup sampai Rp 500 ribu perhari.
“Paling ramai itu waktu dua tahun lalu. Kalau sekarang, penjualnya banjir,” keluhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar