Tanggapi Protes Warga Pemurus Dalam Soal Alihfungsi Sungai
BANJARMASIN – Sejumlah anak Sungai Pemurus Dalam hilang
akibat gencarnya pembangunan. Anak sungai yang masih eksis pun terancam. Salah
satunya anak sungai di Jl A Yani Km 5,7 Komplek Banjar Indah Permai, dinamai
warga setempat Saka (anak sungai, bahasa Banjar) Sundari, yang kini tengah digarap
menjadi perumahan oleh pengembang.
Sejumlah masyarakat yang menamakan diri Kelompok Masyarakat Pemurus
Peduli Sungai (Komppas) beberapa waktu lalu melayangkan protes kepada
Pemerintah Kota Banjarmasin karena khawatir alihfungsi sungai akan berdampak
negatif. Pada Sabtu (15/12) lalu, mereka akhirnya bertemu dengan pihak
pengembang.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur CV Dahlia Mas
Propertindo Irfan selaku pengembang perumahan membantah tudingan alihfungsi
sungai. Pihaknya membuat beberapa
jembatan agar anak sungai tidak mati. Memang saat ini di atas aliran anak
sungai sudah berdiri sejumlah rumah setengah jadi. Namun, ia mengatakan bahwa
aliran air yang melewati kolong rumah nanti akan dibelokkan.
“Usulan sudah dimasukkan ke dinas, setelah dihitung teknis
kita olah lebar 1,5 meter dan dalam 1,5 meter. Itu menampung debit air yang
lebih banyak dari sebelumnya,” ujarnya.
Akan tetapi, perencanaan ini belum mendapat persetujuan dari
dinas terkait. Pengalihan aliran air baru akan direalisasikan setelah ada
persetujuan. Soal pengurukan sungai di lokasi yang rencananya akan dibuat taman
yang juga dilaporkan warga, ia menegaskan bahwa pengurukan berada di belakang
patok sungai yang dipasang pemerintah kota. Tapi ia mengakui keteledoran dalam
pengawasan pekerjaan di lapangan sehingga tanah yang ditumpahkan masuk ke
sungai.
“Menurut dinas (Sumber Daya Air dan Drainase) ada dorongan
sehingga tanah masuk ke sungai. Terus dinas minta tanah diangkat. Kami minta
waktu dua minggu. Jadi, menguruk tidak sengaja. Begitu truk menguruk, eksavator
meratakan, terdorong,” jelasnya.
Pembersihan sungai oleh pengembang tampak sudah berjalan,
tanah diangkat sedikit demi sedikit dengan keranjang rotan. Urukan tanah merah meluber hingga ke tengah
sungai, sekitar empat meter dari patok. Akibatnya sungai mendangkal, padahal
lalu lintas air di Sungai Pemurus cukup
padat oleh pedagang ikan
dan buah maupun angkutan kayu.
Koordinator
Komppas Ahmad Kamaluddin mengatakan, masterplan perumahan tidak memuat gambar
anak sungai. Dari bagian pemasaran, pihaknya mendapat informasi bahwa
pengembang akan mengganti dengan gorong-gorong. Warga 25 RT di Beruntung Jaya,
Perumnas, dan sebagian Komplek Banjar Indah Permai khawatir pemukiman mereka terendam makin parah, sebab
kini tinggal dua anak sungai yang tersisa.
“Kami takut seperti di Perumnas, setelah jadi gorong-gorong
hilang. Lebih baik dibuat terbuka, kalau kotor bisa dibersihkan. Kami pada
intinya yang mana hak sungai dikembalikan, tidak ribet,” tukasnya.
Anak-anak Sungai Pemurus Dalam yang sudah lenyap antara lain
Saka Pasar, Saka Gudang, dan Saka Pulantan. Dampaknya, buangan air mengarah ke
rumah-rumah warga. Menurutnya, tiga tahun terakhir rendaman air saat sungai
pasang atau musim hujan meninggi dari sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar